[4] NINGSIH

[4] NINGSIH

  • WpView
    Reads 102
  • WpVote
    Votes 9
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Jan 17, 2023
WpInfo
Fanfic
NCT
CHENLE X NINGNING X RENJUN. AESPA LOKAL. . Ngalor-Kulon. Beda arah rumah yang membuat Ningsih harus gagal dalam berkomitmen. Merelakan Cinta pertama. . Tolong jadi pembaca yang bijaksana. Kalau ada kesalahan mohon koreksinya. Wajah yang saya pakai hanya untuk pemanis, jadi alur cerita disini sama sekali tidak ada kaitannya dengan pemilik wajah. Disclaimer : cerita ini biasa pake banget. Jalan ceritanya juga bisa ditebak. Ini cuma selingan aja, sayang kalo tidak ku publish. Jadi kalau kamu merasa sudah tidak suka silahkan tinggalkan judul ini.
All Rights Reserved
#93
mitos
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓
  • Work-Love Balance (ON HOLD)
  • Seven Rules
  • Meet You
  • SEMESTA [✓]
  • [1] SEKAR ✔
  • #2 From : Laskar
  • Jeno's
  • DASAR, LAUT!! [ON GOING]
  • KOMPLEK PERMATA | Renjun Harem ft. JiChen

Novel bisa dibeli di Shopee Jaehana_Store BAGIAN KEDUA SAPTA HARSA VERSI NOVEL || KLANDESTIN UNIVERSE "Kenapa lo jahat sama gue! Kenapa kemarin lo pergi? Kenapa? Kenapa lo ninggalin gue? Kenapa lo tega, Jen?" Haikal tak bisa lagi menahan kesedihan yang telah menumpuk di dalam dirinya. Jendral hanya tertawa kecil. "Lo ngomong apasih, Kal? Gue nggak pergi ke mana-mana, kita kan selalu sama-sama. Gue mana pernah ninggalin lo. Ayo ikut, gabung sama yang lain." Ia menarik tangan Haikal, mengajaknya berlari menuju sisi lain dari air mancur itu. Di sana, semua anggota Klandestin berkumpul. Beberapa duduk di atas ayunan yang berderit pelan, ayunan tersebut dihiasi dengan lampu-lampu kecil yang mengelilinginya. "Bang Haikal! Kenapa telat? Kita nungguin loh!" seru Cakra. "Kal, sini, ada mainan yang cocok buat lo," tambah Reihan. Namun, Haikal menggeleng. Ia justru menggenggam erat tangan Jendral di sampingnya. "Kenapa, Mbul? Main sana," Jendral menatapnya dengan heran. Haikal menggeleng lagi, kali ini dengan lebih kuat. "Gue takut," bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. "Takut?" Jendral tertawa, seolah-olah hal itu adalah lelucon. "Seorang Haikal takut?" Haikal mengangguk, menahan diri untuk tidak menangis. "Gue takut kalo genggaman tangan gue lepas, lo bakalan pergi."

More details
WpActionLinkContent Guidelines