We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
TAMARA
  • WpView
    Reads 13
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Apr 27, 2021
WpInfo
Fiction
Romance
"Arga? Hari ini ulan tahun aku, kita jalan yuk!" "Gue udah janji sama setlin nemenin dia ke toko buku" "Tapi,aku kan pacar kamu" "setlin sahabat gue! Dan asal lo tau yah. Menurut gue sahabat lebih penting dari pada pacar!" *** "Kok kemarin aku telfon, kamu gak angkat?" "Lagi jalan bareng setlin, kan ga enak kalo gue ngangkat telpon. Ganggu!" Sudahlah Tamara menyerah saja. Ia tidak tau apa yang harus ia lakukan lagi agar dunia ini berpihak adil kepadanya.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • FARZAA
  • Hukum Cinta || OhmNanon
  • ALFIAN BAGASKARA
  • Enough Love Not For Own [HIATUS]
  • troublemaker VS ketos! ✔
  • KISAH KITA (END)
  • Terima kasih Imajinasi [end]
  • ALASKARA
FARZAA

"Kenapa di nama panggilan lo, huruf 'A' yang terakhirnya ada dua?", kata gadis itu sambil menengok orang yang ditanyanya barusan, yang kini tengah berada di sampingnya. Ia sempat kaget dengan pertanyaan yang dilontarkan gadis yang berada di sampingnya itu. Pasalnya hanya dia yang memerhatikan namanya dan berani bertanya kepadanya. "Ngapain lo mikirin nama gue? Gak penting banget." Jawab Farzaa akhirnya, tanpa melihat ke arah lawan bicaranya. Gue pokoknya harus tahu, guamamnya dalam hati. "Eh iya sih, yang penting kan, kita bisa menghasilkan uang, kita punya uang, dan kita juga bisa menikmati uang kita." gadis itu tertawa sebelum mengucapkan kalimatnya yang baru ia lontarkan. Ia sungguh tidak percaya dengan apa yang ia dengar dari gadis itu barusan, tapi ia bersikap seolah biasa saja dan berkata "Gak semua orang bahagia karena uang. Dan gak seharusnya juga lo terus jadiin seolah-olah uang adalah segalanya dan uang sebagai pemeran utama dalam kehidupan lo". Gue harus ubah cara pikir lo, batinnya. Sebelum gadis itu menjawab, ia melanjutkan perkataannya. "Uang itu salah satunya. Bukan satu-satunya", ia tersenyum dan berbicara setenang mungkin. "Lalu apa?", balasnya dengan gugup setelah mendengar penuturan laki-laki di sampingnya, yang ia sendiri tidak menyangka tanggapannya akan seperti itu. "..."

More details
WpActionLinkContent Guidelines