Jangan Bersembunyi

Jangan Bersembunyi

  • WpView
    Reads 50
  • WpVote
    Votes 12
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadComplete Thu, Aug 19, 2021
Depresi mendalam telah dialami Aydin, sehingga membuatnya perlu melakukan perawatan mental di klinik Mediva selama 1 bulan lamanya. Keadaan tersebut membuat dirinya hampir kehabisan uang, karena biaya terapi yang mencapai belasan juta, meskipun dia sudah banyak berinvestasi saham dalam jumlah besar. "parah, aku hanya punya simpanan dua puluh juta di rekening bank dan seribu lembar lot saham di bank syariah." ujar Aydin. Masa lalu yang sempat tak mampu ia lupakan, rupanya membuatnya mengalami kesedihan yang mendalam. Bayangkan saja, lelaki berusia 25 tahun yang seharusnya sudah melamar seorang gadis untuk dinikahi, malah berujung di klinik terapi mental agar kembali waras. Tentu, hujatan orang-orang di sekitarnya agar menjadi seperti mereka adalah salah satu derita baginya, yaitu tuntutan supaya menikah di usia seperempat abad dengan perempuan yang pernah didekatinya, Yuna. "Sepertinya aku belum siap berumah tangga." Perjalanan hidup yang berliku dimulai, Aydin sering mendapat teror dari arwah ibunya saat dia sudah bekerja di sebuah perusahaan kontraktor. Ibu Aydin, seorang guru ngaji yang terkenal di kampung halamannya, sempat mengalami kerasukan roh halus puluhan kali, entah hanya halusinasinya saja atau mengalami gangguan jiwa akibat ayah Aydin yang hanya bekerja sebagai penjual dawet keliling. Ini perihal yang rumit bagi Aydin, sebab ia sendiri hampir tak pernah melihat jenazah ibunya disemayamkan yang meninggal akibat serangan jantung. Aydin tak begitu yakin jika ibunya meninggal gara-gara penyakit tersebut, setelah kejadian yang tak lazim menimpa ayahnya sendiri. "Aku setiap hari beribadah. Tetapi anehnya, mengapa ibuku yang taat agama bisa mengalami hal gila dalam hidupnya dan mati tanpa kuketahui dimana letak pemakamannya. apa aku terlalu sibuk bekerja saat itu, entahlah." ucap Sam kepada temannya Khalid. "lebih baik kamu berhati-hati, sepertinya ibumu tidak benar-benar mati. aku punya dugaan, ayahmu meninggal, karena ibumu yang melakukannya."
All Rights Reserved
#975
mentalhealth
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Orange Flight (End) ✔
  • My Beloved Revenge [END]
  • Miracle of Survival [END]
  • SELEPAS KAU PERGI (END)
  • Surat tak berbalas
  • Too Good To Be (True) Dominan [END]
  • Ku Pesan Cinta Lewat Do'a (Completed)
  • Past life Casper
  • My Second Life (Completed)
  • RE-SILIENCE (END)

"Javiar, hidup itu perihal menerima dan mengikhlaskan. Kamu tau kan arti dari Al-Qur'an Surah A-li' Imraan ayat 185, Kullu nafsin dzaa-iqatul mauti 'tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati' jadi, Viar akan mati, kakak bakalan mati, Ibun dan Abah juga bakalan mati. Yang jadi permasalahannya itu, ada orang yang sanggup mengikhlaskan dan ada yang enggak." "Kalau suatu saat Viar pergi duluan dari kakak, kakak bakalan ikhlasin Viar?" Nyatanya pertanyaan yang sederhana seperti itu, Agnes tidak mampu menjawabnya sama sekali. "Kamu, nggak perlu mikirin itu ya, kamu harus fokus ke pengobatan kamu, setelah kakak umur 17 tahun, kakak bakalan donorin ginjal buat kamu. Kamu pengen jadi dokter bedah kan? lakuin, buat Ibun sama Abah bangga, buat kakak bangga, karena bisa punya seorang adek yang berprofesi sebagai dokter bedah. *** "Kak Agnes, senjanya bagus ya?" Cover by pinterest

More details
WpActionLinkContent Guidelines