Sebuah Dandelion dari 056

Sebuah Dandelion dari 056

  • WpView
    LECTURAS 15,105
  • WpVote
    Votos 1,434
  • WpPart
    Partes 21
WpMetadataReadConcluida vie, mar 6, 2026
Zero yang hari itu berniat untuk bunuh diri, justru terlibat dalam kecelakaan sepasang suami istri asing yang meninggalkan seorang anak kecil berusia 5 tahun yang tidak dapat berbicara. Hingga kejadian itu membawa perjalanan Zero untuk bertahan hidup lebih lama bersama si bocah. Perjuangan hidup Zero dan si bocah tak ubahnya menjadi perjalanan panjang yang pada akhirnya membukakan mata batin Zero bahwa dia kini memiliki harapan lain, bahwa dia dapat berguna dengan hidup menyandang sebagai sosok ayah. kehidupan yang sulit seperti tak pernah ada habisnya menjerat mereka, hingga dipuncak kesengsaraan takdir yang membuat Zero kehilanga identitasnya. yang membuat Zero masuk pada lorong jeruji besi tanpa nama, yang membuat Zero pada akhirnya hanya menjadi angka-angka tahanan tak bermakna. ----------- Cerita ini tentang perjalanan dua orang asing yang sama-sama tidak diakui keberadaanya oleh keluarga mereka. mereka disatukan untuk saling menyembuhkan, tetapi setelah mala petaka besar menyapa. mereka justru sadar, bahwa orang-orang yang tumbuh dengan luka yang sama. tidak akan pernah mampu menjalin hubungan, sekalipun berusaha. Mereka akan kembali bermasalah dengan Takdir yang menyengsarakan. nb : ini kisah tentang cinta kasih seorang ayah kepada putrinya, cinta seorang gadis kepada remaja sebayanya. dan perjalanan seorang ayah ketika dia menjadi tahanan disebuah ruang tanpa nama.
Todos los derechos reservados
#514
health
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Vericha Aflyn ✔️
  • Penuh Luka (On Going)
  • LOVE in SILENCE
  • Paradise
  • Favorite Wound
  • Game of Hearts [REVISI]
  • GREENSTA [END]
  • ANATHAN  || END

#Judul awal 180 degree.# Vericha Aflyn. Perempuan yang akan menginjak usia 17 tahun, dalam beberapa bulan lagi. Dia bukan perempuan yang haus akan popularitas, bukan pula perempuan polos. Dia hanya perempuan biasa-biasa saja, dengan kisah yang tak biasa. Dia hanya perempuan biasa, yang mendambakan bahagia. Orang baru dan cerita baru, menghiasi hari-harinya. Tuduhan, siksaan, dan cibiran ia dapatkan. Mampu kah dia bertahan? Atau harus menyerah dengan keadaan? ---------- "Jangan pergi! Ini perintah, bukan permintaan!" Icha kembali menutup matanya, membuat air mata yang tertahan di pelupuk matanya terjatuh. Dadanya semakin terasa sesak, mungkin kah dia bisa bertahan? "H-hanya sebentar!" pinta Icha dengan lemah. "Lo harus janji, bakalan bangun lagi!" Setelah itu Icha hanya mengangguk, lalu bersandar di dada Isan. "Lo y-yang harus bangunin gue." Isan mengelus rambut Icha lembut, hati Isan terasa di cubit, saat dia dapat mendengar suara nafas Icha yang teratur. Isan meraih tangan kanan Icha, dan langsung menempelkan di dadanya. Mencoba memberi tahu Icha, tentang keadaan hatinya. Tak berselang lama, Isan di buat terkejut. Debaran jantungnya terasa berhenti, dengan nafas yang tercekat. Tangan Icha jatuh begitu saja di pahanya, nafasnya pun terputus-putus. Isan menggelengkan kepalanya dengan air mata yang sudah bercucuran. Dia dekap erat tubuh Icha, menahannya agar tak pergi. Matanya menatap hamparan bintang, dan indahnya bulan. Memohon keajaiban, dan meminta kesempatan. Isan berteriak lantang, menyerukan nama Icha. Memanggilnya untuk kembali. "ICHA!!"

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido