Ananda, Amanda & Ambisi

Ananda, Amanda & Ambisi

  • WpView
    Reads 4
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Dec 4, 2022
『HARGAI BILA INGIN DIHARGAI DENGAN CARA FOLLOW AUTHOR, VOTE DAN SHARE CERITA AUTHOR』 _________________________Happy Reading_________________________ Ini cerita antara ambisi dan cinta seorang Ananda. Dimana disaat Ananda ingin menjalankan ambisinya, ia juga telah merasakan takdir cinta dengan seorang perempuan. •°•°•°•°• "Lo itu adalah pembunuh Amanda, PEMBUNUH! " ucap Ananda dengan wajah yang diliputi api kemarahan dengan menekankan kata terakhir dari pengucapannya. "A-aku tidak pembunuh. A-aku ti-tidak membunuh siapapun, " ucap Amanda dengan wajah pucat pasi. Bagaimana tidak, ia pasti shock mendengar tuturan tersebut. Sekelebat memorinya berputar pada kejadian tiga tahun yang lalu. "Cih, bulshit! Asal lo tau, lo ada waktu itu di tempat kejadian di-" "Stop! A-aku tidak membunuh dia. AKU TIDAK MEMBUNUH DIA! Hiks, to-tolong jangan-" BRAK! •°•°•°•°• Penasaran sama cerita ini? Dengan senang hati kalian bisa membacanya.
All Rights Reserved
#305
ambisi
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • I Hope You (DISCONTINUED)
  • Revenge Love
  • AYKARLAND
  • Gone(✔)🔚
  • Lisa [Sudah Terbit dalam Bentuk E-Book]
  • Aku Bukan Vellyne [END]
  • Become The Antagonist's Sister?
  • ALSTARAN [END]
  • About Aneska
  • GARDENIA [END]

Sebelumnya inzie tak pernah menyangka akan mendatangi rumah yang sudah selama 6 tahun ini ia tinggalkan. Rumah yang penuh dengan kenangan pahit. Rumah dimana batinnya terus disiksa. Seharusnya inzie tahu, bahwa ketika ia menginjakkan kakinya kembali disini. Ia sudah tak akan sebebas dulu lagi. "Kak, kata mama aku punya seorang kakak yang akan datang. Dan itu adalah kakak. Kakak memiliki mata hijau, persis seperti yang mama ceritakan. Jadi, kak namaku Arnessa. Kalau kakak siapa? Kata mama aku harus bertanya sendiri." Saat Arnessa menyebutkan nama "mama" berulang kali. Itu membuat pandangan inzie semakin dingin. Ia menyentak kasar tangan arnessa yang masih betah melingkari pergelangan tangannya. "Dengar ya, sampai kapanpun aku tidak mempunyai adik. Ingat itu baik-baik." Perkataan penuh penekanan yang dilontarkan oleh inzie membuat arnessa terhenyak. Ternyata kakaknya tak menyukai keberadaannya. Copyright © by inestyanifa

More details
WpActionLinkContent Guidelines