Senja dan Kesendirian

Senja dan Kesendirian

  • WpView
    Reads 21
  • WpVote
    Votes 7
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, May 1, 2021
Ini tentang kisah cinta. Cinta sebelah tangan yang tak akan pernah saling mengenggam. Bangunan yang aku buat tanpa pondasi yang bersedia. Rapuh dan tak tau kapan runtuh. Tak dihargai walapun aku berusaha mengengamnya. Di maki aku menahannya. Di rendahkan aku di hadapannya. Terluka kaki ini karena mencarinya. Jatuh air mata ini karena di tolaknya. Haruskah aku tetap melangkah walau terluka? Haruskah aku menggenggam angin? Atau pergi meninggalkan yang sangat aku cintai.
All Rights Reserved
#217
pasangan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • DALAM DETAK (SELESAI)
  • Psikopat Digital? [End]
  • Mencintaimu Adalah Perang
  • BROKEN HEART [END]
  • Yang Pernah Patah
  • Waktu Senggang (SEGERA TERBIT!)
  • Tentang Luka yang Begitu Setia
  • Lost in Your Mysterious Feeling [ TAMAT ]
  • Narasi patah hati

[ CERITA DIPRIVASI ] Semua orang berlomba bergaya, bekerja, berkomunikasi demi mendapatkan satu rasa yang disebut; Cinta. Hingga lupa pada takdir yang tak selalu menuruti kehendak, sebab ada empunya. Kalau saja cinta selalu seindah bait puisi milik Penyair ternama, mungkin perjuangan benar tak ada artinya. Namun, lagi-lagi, konspirasi alam tak pernah memiliki jadwal. 'Ia' berputar semaunya. Mengitari manusia yang tanpa tahu malu terus berangan. Atau ... justru mendukung mereka para pesimis. Apakah ketika mencintai, kau selalu siap dengan patah hatinya? Hei, kedua hal itu adalah paket wajib yang tak akan bisa kau pilih salah satu. Percayalah, senikmat apa pun cinta yang kaurasa hari ini, kelak alam akan memintanya untuk menghancurkanmu. Menjadi kepingan raga, rasa yang hancur dan kau menderita. Apakah menakutkan? Tidak. Karena manusia selalu merasa dirinya yang terhebat. Berpikir mampu bertahan dalam duka yang teramat. Berangan mampu mengubah cinta menyiksa menjadi bahagia penuh euforia. Bukankah manusia itu makhluk paling serakah? Ia tidak pernah berpikir, kalau segala sesuatu memiliki batas. Kecuali, Sang Pencipta. Maka, beginilah ritmenya; Cinta-->Bahagia-->Jenuh-->Luka-->Mengakhiri/Memperbaiki? Selamat Membaca! Salam, Curious_ Ditulis-Diakhiri: Maret 2017

More details
WpActionLinkContent Guidelines