GAZBIYA

GAZBIYA

  • WpView
    Membaca 6
  • WpVote
    Vote 1
  • WpPart
    Bab 1
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Min, Mei 2, 2021
WpInfo
Fiksi
Romansa
Disebuah taman dekat dengan supermarket tempat gavin belanja samar samar dia mendengar suara tangisan perempuan "Hiks hiks hiks sakitt" "Suara siapa itu tidak mungkin ada hantu siang bolong begini kan "ujar gavin mengingat kemarin malam dia baru saja melihat film horor jadi sekarang terbayang bayang. Gavin berjalan mengikuti arah suara tersebut dan dia melihat sosok gadis rapuh yang sedang menangis dengan luka luka yang ada di tangan dan wajahnya. "Siapa kamu, kenapa kamu datang kesini apakah kamu datang sebagai malaikat pencabut nyawaku? Kalau iya cabut saja nyawaku aku sudah tidak kuat dengan beban ini" "Aku datang bukan sebagai malaikat pencabut nyawamu, tapi aku datang sebagai malaikat pelindungmu"batin gavin karena entah mengapa dia sangat ingin melindungi gadis rapuh yang ada didepannya.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Liberosis
  • Gara Narendra
  • MALAM(MALA & ILHAM)
  • Noah Sky Archel El'william s1[ End, Revisi]
  • Me And His Hopes
  • Second Life The Geeky Boy
  • Garis Singgung
  • Delapan Sayap Langit /with SKZ (selesai)
Liberosis

"Kamu emang anak yang gak berguna! Saya menyesal sudah membesarkan kamu! Apa yang bisa saya banggakan? Gak ada!" "Memang gak ada! Gak ada yang bisa Papa banggain dari aku. Meskipun aku udah berjuang selama ini, itu semua gak ada artinya untuk Papa!" "Anak kurang ajar!" PLAK! Di tengah derasnya guyuran hujan, pria belasan tahun itu melangkah tertatih-tatih dengan darah yang mengucur dari pelipisnya. Wajahnya penuh lebam, sudut bibirnya robek, menyisakan rasa perih yang begitu luar biasa ketika bercampur dengan air hujan. Ia berjalan tak tentu arah di pinggir trotoar, kaos hitamnya basah mencetak dengan jelas bentuk tubuhnya yang atletis, pria itu hanya memakai celana pendek sehingga bulu-bulu di kaki jenjangnya terlihat jelas bahkan udara yang sangat dingin begitu menusuk ditambah tidak memakai alas kaki. Kepalanya menengadah ke atas langit. Membiarkan ribuan rintik hujan itu menampar wajahnya. Matanya terpejam sejenak. Dari radius dua ratus meter tempatnya berdiri, ada sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Sudut bibirnya terangkat. Sepertinya seru, itu pikirnya. Tanpa berpikir panjang, ia melangkah pelan turun ke jalan aspal seperti orang yang tidak berminat untuk hidup. Dari arah kanan, mobil melaju begitu kencangnya tanpa melihat ada seorang yang berdiri di tengah jalan karena ribuan air itu menutupi kaca mobil sehingga sopir tidak mampu menatap dengan jelas. Selamat tinggal, dunia yang menyakitkan. Namun lima meter lagi saat mobil hendak menyentuh tubuhnya, tiba-tiba ada yang menarik pergelangan tangan pria itu dengan begitu cepat. Napasnya berburu kencang. "LO GAK WARAS?!" Perempuan bermata biru itu ... setidaknya itu yang Alvan lihat sebelum matanya benar-benar terutup.

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan