We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Please Remove My Wound

Please Remove My Wound

  • WpView
    Reads 89
  • WpVote
    Votes 18
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Jun 14, 2021
WpInfo
Fiction
Romance
"Aku cuman mau bahagia, cuman mau hidup selayaknya mereka, hidup seperti mereka, tertawa bahagia tanpa ada beban. Tapi kenapa aku gak bisa seperti itu. disini aku cuman sendiri. Yang ada disekitarku hanya mereka yang menatapku penuh kebencian dengan kata-kata pedas yang selalu mereka tujukan padaku tanpa aku tahu apa kesalahanku. Kucoba untuk gak peduli, tapi aku gak bisa. perkataan mereka terus bikin aku mikir sebenarnya apa kesalahan aku? Kenapa mereka membenciku? kenapa hidup aku kayak gini? Aku pengen bahagia! Selama ini kenapa hidup aku begini? Apa Tuhan gak sayang sama aku? kenapa? Aku hanya pernah beberapa kali bermimpi seorang pangeran tampan, wajahnya begitu terang datang dan mengatakan 'jika kamu merasa sendiri di dunia ini, jika kamu pikir dunia ini tak membiarkanmu bahagia, jika kamu merasa tak punya lagi tujuan hidup dan bahkan harapan untuk hidup. maka kini buang semua pikiran itu! Karena sekarang aku ada untuk membuatmu bahagia. jadi sekarang kamu gak sendiri lagi. Aku ada disini buat kamu' Sekejap aku senang. Tapi aku aku sadar itu hanya mimpi, mana mungkin ada yang mau mengatakan hal itu padaku? Tapi mimpi ini mimpi yang seperti nyata namun tetap saja itu hanya mimpi. Andai bisa, aku mau hidup di alam mimpi saja"
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • You and I, See that Sky
  • Why?? Kumpulan Cerpen✔
  • IVL - (Invisible » In Vibes Love)「✓」
  • Don't Talk About Money
  • PARK JIMIN [End]
  • Haruskah Aku Bertahan?
  • Sensei !!!    I Love You !   ||| K.V |||
  •  Cuman Kebetulan
  • l'm Fine :) [ON GOING]

"Dia hanya teman. Tidak kurang dan tidak lebih." Bodo amat kalau orang lain memandangku begitu. Tapi, mau tidak mau aku jadi kepikiran karena kalimat itu keluar dari mulut sahabat se-bocil se-remajaku, Putra. Dan sebenarnya aku tidak perlu cemas karena itu terjadi di alam mimpi. Yah, seandainya aku bisa tenang kalau mimpi-mimpi burukku tidak menjadi kenyataan. Fenomena aneh ini telah kualami sejak masih SMP. Apa kali ini pun, aku harus menaggung rasa sakit dan putus asa sendirian? "Satu-satunya gadis yang bisa membuatku tersenyum dan merasa bahagia hanya dengan melihatnya." Astaga. Siapa yang Putra maksud dalam tulisannya itu? Bagaimana kalau ia benar-benar akan pergi meninggalkanku?

More details
WpActionLinkContent Guidelines