Surat Terbuka untuk Nasya

Surat Terbuka untuk Nasya

  • WpView
    Reads 529
  • WpVote
    Votes 115
  • WpPart
    Parts 12
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Apr 6, 2022
"Hay. Kita ketemu lagi, cantik." Demi Tuhan, hanya karena kalimat itu saja, hidup masa sekolah yang awalnya dikira baik-baik saja kini jadi berantakan. Sudah ada orang lama yang membebankan pikiran, ditambah lagi orang baru membuat seorang Nasya Syakilla benar-benar sakit kepala. "Lo nggak gini, Na." Kejadian semesta yang sudah sering kali ia elakkan dan ia doakan agar tidak menimpanya, kini benar-benar sudah terjadi. Bagaimana mungkin semesta setega itu membuat hidupnya yang sudah rumit bertambah rumit dengan adanya manusia-manusia yang tak mau dengan sukarela pergi? • Start August21 [Ongoing-HOLD] Update tidak menentu. Mohon dimaklumi.
All Rights Reserved
#10
azel
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Lantas (END)
  • DinoSaurus
  • I'm Fine
  • ELNATHANIAL
  • KETOS AGAIN!!
  • GASA [end]
  • Secangkir Tawa, Sebotol Air Mata
  • Stolen Before Fallen
  • Fake Nerd and Ketos Rese {REPUBLISH}
  • ARTAN

PERINGATAN ⚠️ Di beberapa part terdapat adegan kekerasan dan kata-kata kasar! ------------------------- Navisha Aqila Anastasia, gadis berambut sebahu berusia 17 tahun, adalah siswi cerdas yang selalu menjadi kebanggaan sekolahnya. Memasuki awal kelas 12, ia dipertemukan dengan Arzan Nauval Abraham, siswa yang harus mengulang tahun terakhirnya. Awalnya, mereka hanyalah dua orang asing yang kebetulan duduk di bangku yang sama. Namun, waktu demi waktu menghapus jarak di antara mereka, mengubah pertemuan biasa menjadi kisah yang tumbuh di sela tawa dan diam-diam yang saling mengerti. Hingga suatu hari, ada satu hal yang menyangkut orang tua mereka yang memaksa mereka untuk menjaga jarak, seolah perasaan yang sudah terlanjur tumbuh harus dibekukan begitu saja. Haruskah mereka menyerah pada ego orang tua mereka? Atau justru melawan demi kebahagiaan yang mereka yakini? ~~~ "Terima kasih, karena pernah menjadi rumah, meski bukan yang terakhir."

More details
WpActionLinkContent Guidelines