Simbiosis Mutualisme

Simbiosis Mutualisme

  • WpView
    Reads 174
  • WpVote
    Votes 19
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Nov 26, 2021
Singkatnya Haikal menyukai Zee, cewe yang menjabat sebagai bendahara di kelasnya. Segala cara sudah ia lakukan demi menaklukkan hati Zee namun itu sia-sia karena Zee masih trauma akan masa lalu nya. "Udah dicintai tapi ngga mencintai balik, lo ga paham simbiosis mutualisme?" "Paham, tapi sayang gue sama sekali ga cinta sama lo Haikal" Tidak ada yang tahu bahwa kata-kata tersebut Zee ucapkan hanya untuk menutup rapat trauma yang dulu ia dapatkan ketika menjalin hubungan, jauh dari lubuk hatinya cewe tersebut juga merasakan apa yang Haikal rasakan.
All Rights Reserved
#117
haikal
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓
  • BACKSTREET ✔ [TERBIT]
  • Hanan & Hanin {End}
  • TIMELESS CRUSH (REVISI)
  • My cute Boyfriend
  • Asmalibrasi | Hyuckna ✔️ (Terbit)
  • JATUH GAK CUMAN SEKALI
  • infortúnio
  • Bumblebee {Nohyuck} Going To Season 2
  • Hazela (HIATUS)

Novel bisa dibeli di Shopee Jaehana_Store BAGIAN KEDUA SAPTA HARSA VERSI NOVEL || KLANDESTIN UNIVERSE "Kenapa lo jahat sama gue! Kenapa kemarin lo pergi? Kenapa? Kenapa lo ninggalin gue? Kenapa lo tega, Jen?" Haikal tak bisa lagi menahan kesedihan yang telah menumpuk di dalam dirinya. Jendral hanya tertawa kecil. "Lo ngomong apasih, Kal? Gue nggak pergi ke mana-mana, kita kan selalu sama-sama. Gue mana pernah ninggalin lo. Ayo ikut, gabung sama yang lain." Ia menarik tangan Haikal, mengajaknya berlari menuju sisi lain dari air mancur itu. Di sana, semua anggota Klandestin berkumpul. Beberapa duduk di atas ayunan yang berderit pelan, ayunan tersebut dihiasi dengan lampu-lampu kecil yang mengelilinginya. "Bang Haikal! Kenapa telat? Kita nungguin loh!" seru Cakra. "Kal, sini, ada mainan yang cocok buat lo," tambah Reihan. Namun, Haikal menggeleng. Ia justru menggenggam erat tangan Jendral di sampingnya. "Kenapa, Mbul? Main sana," Jendral menatapnya dengan heran. Haikal menggeleng lagi, kali ini dengan lebih kuat. "Gue takut," bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. "Takut?" Jendral tertawa, seolah-olah hal itu adalah lelucon. "Seorang Haikal takut?" Haikal mengangguk, menahan diri untuk tidak menangis. "Gue takut kalo genggaman tangan gue lepas, lo bakalan pergi."

More details
WpActionLinkContent Guidelines