Eric Untuk Putri Sabina

Eric Untuk Putri Sabina

  • WpView
    Reads 3
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, May 11, 2021
Bagaimana rasanya saat kamu meyukai seseorang atau mungkin menyayanginya dengan tulus tapi kamu malah ditolak mentah mentah dan orang itu lebih memilih orang yang baru dikenalnya? Sakit bukan... Dan saat kamu membuat jarak dan mulai merelakannya dia malah menahanmu untuk tetap bertahan dan seolah olah kamu yang jahat karena telah meninggalkannya. *** "Terkadang benda mati yang sudah terlanjur hancur akan sangat sulit untuk dikembalikan seperti bentuk semula. Begitupun hati dan kepercayaan seseorang, akan sangat sulit untuk mengembalikannya. Apa yang kamu sukai belum tentu itu yang kamu butuhkan dan apa yang kamu butuhkan belum tentu itu yang kamu sukai." Amel menjeda kalimatnya sebentar, dilihatnya anak satu satunya itu yang tengah menunduk. Ia tau anaknya sedang mencerna kalimatnya barusan. Diraihnya pundak remaja laki laki itu, di belai lembut rambutnya menyalurka semua kasih sayang yang ia miliki. "Tapi semua tidak akan sia sia jika kamu ingin merubahnya, ingat tidak ada yang mustahil ketika kita berusaha buat menjadi yang lebih baik dari sebelumya." "Sana! Kamu rebut kembali hatinya, sebelum dia benar benar melupakanmu dan memilih yang lain". Lanjutnya dan di akhiri dengan senyum manis keibuan. Remaja laki laki itu lantas berdiri dari kursi, bergegas keluar rumah tapi sebelum itu ia mengucapkan terimakasih kepada bundanya yang selalu ada disaat dia butuhkan.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • ALDIR (SEGERA TERBIT)
  • Truth After Love, Kiara and Zaki (Tamat)
  • Always Loving You
  • When his name is
  • Nathalia
  • HALOALKANA
  • Buku Harian Dan Sebuah Musim
  • KENANGAN INDAH BERSAMAMU
  • I Love You
  • FRIENDzone (Completed)

Denting luka dan riuh kehilangan berbaur jadi satu. Pecahan-pecahan perasaan berserakan di lantai jiwa kita. Rahasia yang terlalu lama disembunyikan kini berubah menjadi beban yang tak tertanggungkan. Kita mulai kehilangan-satu per satu. Kejujuran ternyata bukan hanya soal berkata benar, tapi soal keberanian untuk menanggung luka setelahnya. Kita takut berbagi sakit, takut menumpahkan amarah, takut mengakui betapa bersalahnya kita. Dan ketika semuanya pecah, hanya diam yang tersisa. --- "Dirta, jaga mereka baik-baik, ya? Aku pergi duluan. Aku sayang kamu..." - Aletha

More details
WpActionLinkContent Guidelines