Urban Misteri : WEWE GOMBEL

Urban Misteri : WEWE GOMBEL

  • WpView
    Reads 527
  • WpVote
    Votes 11
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, May 12, 2021
WpInfo
Fiction
Horror
Kisah dimulai dengan latar belakang Bukit Gombel, Kota Semarang tahun 1980; Pasangan Asnawi dan Marni sudah sebelas tahun menikah tanpa dikaruniai anak. Suatu ketika Asnawi selingkuh dengan sahabat Marni dan memiliki anak. Marni sangat sedih dan hancur hatinya, apalagi keluarga Asnawi malah mengusirnya karena marni terbukti mandul. Dalam keadaan sedih dan putus asa Marni keluar dari rumahnya dan menjadi gelandangan dengan jiwa terganggu. Namun Marni masih suka berkeliaran di sekitar rumahnya dulu, mengawasi Asnawi yang sudah menikah dengan Tinah sahabat Marni. Melihat Asnawi bahagia dengan Tinah dan bayi mereka, Marni kerap membayangkan kalau itu adalah kebahagiaan mereka. Karena apa yang Tinah miliki sekarang adalah impian Marni selama 11 tahun yang tak tewujud. Kehadiran Marni yang dianggap gembel edan di mata tetangganya juga keluarga Asnawi jelas menimbulkan keresahan di daerah Gombel. Suatu ketika Marni melihat anak tetangganya bermain hingga lewat maghrib dan tersesat hingga menangis. Marni menghampiri anak itu dan mau mengantarnya pulang, namun anak itu ketakutan dengan penampilan Marni yang mirip orang gila karena tak terawatt. Anak itu menangis ketakutan, hingga warga yang melihat salah faham dan mengira Marni akan menculiknya. Para warga akhirnya menghakimi Marni, hingga Marni digantung di sebuah pohon besar. 40 hari setelah itu, arwah penasaran Marni pun gentayangan dan menuntut balas. Marni menjadi Wewe Gombel, yang menculik anak anak kecil yang masih berada di luar rumah selepas Maghrib. Marni tidak membunuh mereka, namun menculiknya berhari-hari dan baru mengembalikan mereka setelah para warga mencarinya dengan bantuan seorang tetua kampung, dengan cara memukul-mukul tampah (nampan dari anyaman bamboo), sambil berseru "blek blek ting..blek blek ting..(dilanjutkan dengan menyebut nama anak yang hilang. Setelah 7 kali putaran maka anak itu akan ditemukan di atas pohon besar tempat Marni dulu digantung warga.
All Rights Reserved
#3
tisats
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Bisikan di Malam Hujan
  • KEMBOJA MERAH
  • GIBAH DAN FITNAH - HOROR (FULL)
  • Mbak Padmi Dan Wewe Gombel [Short Story Kedhung Jati 2]
  • Deja Vu (END) Wish Series #7
  • Warisan Gandari
  • Night Stalkers
  • Panca dan Misteri Gua Kelelawar
  • Rumah Cahaya
  • NAVIELA

Sari berjalan pulang sendirian melewati pohon tua setelah berjualan kue di desa tetangga. Hujan deras mengguyur, dan suasana terasa tidak biasa. Di tengah perjalanan, Sari mendengar bisikan yang memanggil namanya dari arah pohon besar. Rasa takut menyergap, tapi dia berusaha mempercepat langkahnya. Pagi harinya, seorang warga desa menemukan tubuh Sari tergantung di pohon tua tersebut. Kejadian ini menggemparkan seluruh desa. Masyarakat segera mengaitkan kematian ini dengan kutukan yang sudah lama dipercayai oleh mereka. Wahyu, seorang jurnalis dari kota, tiba di desa setelah mendengar berita kematian misterius ini. Ia tidak percaya pada mitos atau cerita-cerita kutukan. Dia menemui Bu Ratih, ibu Sari, yang masih dalam keadaan terkejut dan ketakutan. Wahyu berusaha menyelidiki lebih jauh dan bertemu dengan Pak Suman, kepala desa. Pak Suman memperingatkan Wahyu untuk tidak mengganggu keseimbangan desa dengan menyelidiki pohon tersebut, karena menurutnya hal itu bisa membangkitkan kemarahan "roh" yang bersemayam di sana. Wahyu bertemu dengan Sri, sahabat dekat Sari. Sri memberitahu Wahyu bahwa Sari sering kali mendengar suara-suara aneh setiap kali melewati pohon tua saat hujan. Ini membuat Wahyu semakin tertarik untuk menggali lebih dalam, meskipun Sri terlihat ketakutan.

More details
WpActionLinkContent Guidelines