Memantaskan Hati

Memantaskan Hati

  • WpView
    Reads 13
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, May 12, 2021
Memilih pendamping hidup tidak hanya melihat dari luarnya saja, tetapi lihatlah akhlaknya. Mengapa akhlak lebih utama? karena akhlak derajatnya lebih tinggi daripada ilmu. Memilih pasangan bukan sekadar memilih, tapi harus selektif agar tidak kecewa nantinya
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • PREFERENSI (Stagnasi #1) - Completed
  • Janji Syawal #1 (End)
  • Takdir Imamku [SELESAI, PROSES SELF PUBLISH]
  • Cambuk
  • Perempuan Milik Hanafi
  • Diurnarii
  • The Last Love (END)
  • Tangled Love
  • KHAIRA
  • Titik Tunggu (Sudah Revisi)

[Sebagian bab di-private. Follow untuk membaca] Monarza Arkananta selalu berpikir hidup harus terencana. Secara sistematis ia selalu membuat target dan langkah-langkah aktual untuk mencapainya. Di usia duapuluh tujuh tahun, sudah saatnya bagi Mona menjalin hubungan yang serius dan tentu saja bermuara ke pernikahan. Memiliki rumah tangga yang harmonis, suami yang sesuai kriteria, dan anak yang bagai pinang dibelah dua dengan dirinya, adalah racun televisi yang telah menyatu di nadinya. Menikah adalah langkah awal untuk mewujudkan segala target hidupnya. Lentera Girindanu selalu memiliki prioritas dalam hidupnya. Bagi Danu, menjadi anak lelaki satu-satunya dalam keluarga, sudah semestinyalah ia mencurahkan segalanya untuk membahagiakan ibu dan saudaranya. Setiap keputusan yang ia ambil selalu berkiblat pada kesejahteraan keluarganya. Menikah adalah langkah terakhir yang akan ia ambil setelah semua prioritas bisa ia penuhi. Ini tentang dua orang yang termakan standar sosial mengenai sukses dan mapan, sampai kapan mereka bisa bertahan? cover by @crowdstroia copyright by verbacrania 2017

More details
WpActionLinkContent Guidelines