Langkahnya terhenti, napasnya tersengal, seperti telah berjalan terlalu jauh tanpa tahu arah pulang. Sekelilingnya terasa begitu asing, meski setiap jejak di tanah ini telah berkali-kali ia lewati. Labirin ini bukan sekadar jalan berliku-ia adalah perangkap, menciptakan ilusi seolah ada jalan keluar, padahal kenyataannya, hanya kehampaan yang menunggu di ujungnya.
Ia mencoba memahami segalanya, menyusun kembali kepingan-kepingan yang berserakan. Tapi semakin ia mencoba, semakin kabur batas antara kenyataan dan harapan.
Di salah satu sudut labirin, ada sosok yang pernah ia percaya. Mata itu pernah menjadi tempat pulangnya, senyuman itu pernah menjadi cahaya yang membimbingnya di kegelapan. Tapi kini, sosok itu berdiri di persimpangan yang berbeda, tak lagi menoleh, tak lagi memanggil namanya.
Sementara di sudut lain, ada seseorang yang selalu ada, menunggunya tanpa suara, dengan sabar, dengan ketulusan yang tak pernah ia pahami sepenuhnya. Namun, semakin ia mencoba melangkah ke arah itu, semakin labirin ini berputar, menariknya kembali ke titik awal-ke tempat di mana ia harus memilih, padahal ia tahu, tidak ada pilihan yang benar.
Angin berembus pelan, membawa bisikan yang entah dari mana asalnya. Langit di atasnya perlahan memudar, terselimuti awan kelabu yang menggantung rendah, seakan hendak runtuh dan menelannya bersama labirin ini.
Dan akhirnya, ia hanya bisa berdiri di sana-tanpa arah, tanpa pegangan.
Sendirian.
Terdampar dalam labirin yang tidak pernah ia pilih untuk masuki, tapi juga tidak tahu bagaimana cara keluar darinya.
{END}
Honesty is expensive, therefore never underestimate people who tell the truth.
So Junghwan, si bungsu dengan senyuman yang seolah melukis kesempurnaan, hidup dalam sunyi yang menggigit. Bukan karena ia tak ingin bersuara, tapi karena dunia memilih untuk tak mendengar. Luka-luka tak kasat mata menggores dalam, sementara rasa sakit di sekujur tubuhnya menjadi pengingat kejam bahwa bahkan bernapas pun bisa terasa seperti hukuman.
Namun, di tengah kehampaan itu, ada doa yang terus ia bisikkan kepada langit yang tak pernah menjawab. "If I could live again," pikirnya, sambil menatap bintang-bintang yang terasa begitu jauh, "I'd wish to know how it feels to be loved by all my Hyungs."
Harapan itu kecil, rapuh, tapi indah-seperti kelopak bunga yang mekar meski dikelilingi musim dingin. Bahkan di dunia yang dingin, Junghwan percaya, cinta- sekecil apa pun- adalah alasan untuk tetap melangkah.