Langkahnya terhenti, napasnya tersengal, seperti telah berjalan terlalu jauh tanpa tahu arah pulang. Sekelilingnya terasa begitu asing, meski setiap jejak di tanah ini telah berkali-kali ia lewati. Labirin ini bukan sekadar jalan berliku-ia adalah perangkap, menciptakan ilusi seolah ada jalan keluar, padahal kenyataannya, hanya kehampaan yang menunggu di ujungnya.
Ia mencoba memahami segalanya, menyusun kembali kepingan-kepingan yang berserakan. Tapi semakin ia mencoba, semakin kabur batas antara kenyataan dan harapan.
Di salah satu sudut labirin, ada sosok yang pernah ia percaya. Mata itu pernah menjadi tempat pulangnya, senyuman itu pernah menjadi cahaya yang membimbingnya di kegelapan. Tapi kini, sosok itu berdiri di persimpangan yang berbeda, tak lagi menoleh, tak lagi memanggil namanya.
Sementara di sudut lain, ada seseorang yang selalu ada, menunggunya tanpa suara, dengan sabar, dengan ketulusan yang tak pernah ia pahami sepenuhnya. Namun, semakin ia mencoba melangkah ke arah itu, semakin labirin ini berputar, menariknya kembali ke titik awal-ke tempat di mana ia harus memilih, padahal ia tahu, tidak ada pilihan yang benar.
Angin berembus pelan, membawa bisikan yang entah dari mana asalnya. Langit di atasnya perlahan memudar, terselimuti awan kelabu yang menggantung rendah, seakan hendak runtuh dan menelannya bersama labirin ini.
Dan akhirnya, ia hanya bisa berdiri di sana-tanpa arah, tanpa pegangan.
Sendirian.
Terdampar dalam labirin yang tidak pernah ia pilih untuk masuki, tapi juga tidak tahu bagaimana cara keluar darinya.
Woo Seulgi selalu percaya bahwa dunia ini terlalu dingin untuknya. Terjebak dalam realitas yang pahit, dia belajar untuk menjaga jarak, menutup diri, dan tidak membiarkan siapa pun masuk ke dalam dunianya yang kelam. Namun, semua itu mulai berubah saat Yoo Jaeyi datang-seperti angin musim semi yang perlahan melelehkan lapisan es di hatinya.
Jaeyi tidak pernah takut mendekati Seulgi. Dengan kesabaran dan kehangatannya, dia perlahan merayap masuk ke dalam kehidupan Seulgi, membawa warna baru yang tak pernah Seulgi bayangkan sebelumnya. Tapi ketika perasaan mulai tumbuh, ketakutan juga ikut menyertai-takut terluka, takut kehilangan, takut berharap terlalu banyak.
Di tengah konflik keluarga, ketakutan akan masa depan, dan kehadiran seseorang yang mengaburkan batas antara persahabatan dan cinta, Seulgi harus memilih-apakah dia akan terus bersembunyi di dalam kepompongnya, atau berani terbang dengan sayap yang baru tumbuh.
Karena tidak ada yang tahu ke mana angin akan membawa kupu-kupu yang baru belajar terbang.