DESTINY
  • WpView
    Reads 2,294
  • WpVote
    Votes 415
  • WpPart
    Parts 20
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Aug 20, 2024
WpInfo
Fanfic
Enhypen
cover by @chaygraphic "Kita nggak bisa hidup selamanya, Jia," kata Jorgas memandang Jingga yang menatapnya dengan sorot sendu. Seharusnya ketika dirinya mendengar itu, Jingga berhenti berharap pada "selamanya" yang selalu ia agung-agungkan, seharusnya dari situ Jingga sadar tidak ada yang menginginkannya selain Hiro Bumantara. Dan, seharusnya Jingga sadar kalau dari awal sebenarnya mereka tidak akan lama. Sebab, mustahil bukan untuk dua orang yang berbeda tapi memaksa bersatu? 𝙆𝙞𝙩𝙖 𝙥𝙖𝙨𝙩𝙞 𝙨𝙚𝙡𝙚𝙨𝙖𝙞. 𝙆𝙞𝙩𝙖 𝙥𝙖𝙨𝙩𝙞 𝙗𝙚𝙧𝙖𝙠𝙝𝙞𝙧 𝙢𝙖𝙨𝙞𝙣𝙜-𝙢𝙖𝙨𝙞𝙣𝙜. 𝘿𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙢𝙗𝙖𝙡𝙞 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙖𝙨𝙞𝙣𝙜.
All Rights Reserved
#529
gemas
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Senja dan Jingga
  • Call It What You Want (END)
  • Jiwa Senada | Terbit
  • TOO LATE
  • Sebuah Antara ✔
  • Jingga dan Senja [SUDAH TERBIT]
  • LANGIT JINGGA (TAMAT)
  • NAIK PELAMINAN [TAMAT LENGKAP]

Senja itu indah, bukan? Dia terlihat menenangkan, damai, namun apa yg kita tahu lebih dari itu? Mungkin saja dia menyimpan emosi, dan kesedihan di dalamnya? Dan jingga, dia tak akan lepas dari senja. Senja dan Jingga yang ditakdirkan harus tetap bersama, saling melengkapi oleh semesta. Tanpa jingga, tidak akan ada yang namanya senja, dan tanpa senja, jingga pun tidak bermakna. Mereka akan sempurna saat bersama. Namun, ini bukanlah tentang senja berwarna jingga yang berada di atas langit sana--mereka hanyalah seorang kakak-adik yang saling melengkapi. Tentang Jingga--sang kakak yang harus menjadi tulang punggung keluarga, jadi ayah serta ibu untuk adiknya, dan harus tetap kuat disaat jiwa dan raganya sudah lelah. Semua itu hanya demi satu orang--adiknya. Senja. Senja terlahir tidak normal seperti anak-anak lainnya. Dia memiliki gangguan spektrum autisme hingga seringkali Jingga merasa cemas saat harus meninggalkan sang adik. Tak ada kerabat yang peduli, bahkan ayahnya pun lepas tangan, ia jarang sekali pulang. Kalaupun ia pulang, hanya untuk menuntut uang pada Jingga--untuk berjudi dan mabuk-mabukan. Di tengah kerasnya kehidupan Di tengah kejamnya dunia Akankah Jingga menemukan cahaya bersama Senja? Ataukah Jingga dan Senja akan tenggelam, hilang ditelan langit yang gelap?

More details
WpActionLinkContent Guidelines