Lila kembali ke kampung setelah bertahun-tahun meninggalkan rumah masa kecilnya-sebuah rumah tua yang kini kosong sejak kematian neneknya. Ia datang dengan niat sederhana: membereskan peninggalan dan menjual rumah itu.
Namun sejak langkah pertama masuk, ada sesuatu yang terasa salah.
Rumah itu terlalu sunyi... seolah menunggu.
Di halaman belakang, sebuah sumur tua masih berdiri-tempat yang sejak kecil selalu dilarang keras oleh neneknya untuk didekati, terutama setelah magrib. Dulu Lila tidak pernah bertanya kenapa. Sekarang, larangan itu berubah menjadi rasa takut yang tidak bisa ia jelaskan.
Malam pertama, Lila mulai mendengar suara.
Ketukan.
Bisikan.
Dan panggilan... yang menyebut namanya.
Semakin lama ia tinggal, batas antara ingatan dan kenyataan mulai kabur. Potongan memori yang tidak ia kenali muncul satu per satu-tentang seorang anak perempuan, tentang permainan yang berubah menjadi tragedi, dan tentang sesuatu yang sengaja dikubur... bukan hanya di dalam sumur, tapi juga di dalam pikirannya sendiri.
Saat kebenaran perlahan terkuak, Lila menyadari bahwa ia tidak benar-benar "kembali" ke kampung itu.
Ia dipanggil.
Dan sesuatu di dalam sumur... tidak hanya ingin didengar.
Ia ingin digantikan.
Dengan atmosfer mencekam, deskripsi yang tajam, dan tekanan psikologis yang perlahan menghancurkan, Suara dari Sumur Tua membawa pembaca menyelam ke dalam rasa bersalah, ingatan yang terhapus, dan teror yang tidak pernah benar-benar mati.
Karena beberapa tempat... tidak pernah lupa.
Dan beberapa suara... tidak akan berhenti memanggil.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang