Denotasi

Denotasi

  • WpView
    Reads 139
  • WpVote
    Votes 13
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Sep 23, 2022
SLOW UP Semakin dewasa Yaya semakin mengerti tentang semua yang terjadi dalam hidupnya. Berusaha menerima hanya itu yang bisa dia lakukan, menanamkan diri akan persepsi bahwa pandanglah apa yang kamu punya, bahagiakan dan ikut berbahagia, bersyukur akan kehadiran mereka, dan berusaha agar semua ini bertahan. Bukan memandang akan hal yang dia tidak punya, memandang terus kebelakang dengan bayang bayang akan kekosongan. Semua perasaan yang akan dia rasakan itu kuncinya juga pada dalam diri, menentukan untuk terpengaruh atau tidaknya dirinya dari hebatnya kuasa orang orang dunia luar. . . Yaya manusia biasa dengan misi selalu membuat tawa di wajah mereka yang dia sayang. ✯✧✯✧✯✧✯✧ **** ◽Cover by author ◽Cerita ini berasal dari otak dan diketik oleh tangan author sendiri!
All Rights Reserved
#136
brothers
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Dua cangkir satu Meja
  • RAGARA [ on going ]
  • Kawin Kontrak? [COMPLETED]
  • It's Always Been You✔️
  • ASRAMA LANTAI 7 {TERBIT} ✓
  • Pelangi yang Telah Lama Hilang
  • Felicity [On Going]
  •  𝟕 𝐑𝐚𝐠𝐚 𝟏 𝐑𝐚𝐬𝐚 || 𝐄𝐍𝐇𝐘𝐏𝐄𝐍 [𝐎𝐧𝐠𝐨𝐢𝐧𝐠]
  • dimana janji tersebut

Dua cangkir di satu meja. Salah satunya kopi hitam yang mulai dingin, satunya lagi teh hangat yang baru diseduh. Sama seperti mereka-dua orang yang dulu satu keluarga, kini seperti orang asing di bawah atap yang sama. Dewa sudah terbiasa hidup sendiri. Ia bisa makan mi instan kapan saja tanpa ada yang mengomentari. Bisa pulang larut tanpa ada yang menunggu. Bisa menjalani hari-harinya tanpa merasa harus menjelaskan apa pun kepada siapa pun. Lalu datang ayahnya, yang entah sejak kapan mulai mengatur ulang dunianya. Mengajaknya makan bersama, menyeduhkan teh di pagi hari, bahkan diam-diam mengganti mi instan dengan sesuatu yang lebih bergizi. Dewa tidak mengerti-apa yang sebenarnya diinginkan ayahnya? Kenapa setelah tujuh tahun pergi, kini ia kembali dan bertingkah seolah-olah segalanya masih bisa diperbaiki? Di sisi lain, ada Nira, seseorang yang selalu ada untuknya. Tapi kini, ia merasa semakin jauh. Hubungan yang dulu terasa nyaman perlahan berubah menjadi sesuatu yang penuh pertanyaan. Di antara meja makan yang dulu selalu sepi, dua cangkir yang tak pernah sama, dan sepiring mi instan yang akhirnya tak lagi dimakan sendirian, Dewa harus menghadapi sesuatu yang selama ini selalu ia hindari: apa arti pulang yang sebenarnya? Slow fic Sudah selesai ditulis sampai ending, sudah dipublikasikan pula semuanya. Sebab, aku tidak suka menunggu. Jadi, aku tidak akan membuatmu menunggu. 48 bab secara total. Bacalah jika menurutmu layak dibaca, tinggalkan jika menurutmu membosankan. Terima kasih sudah meluangkan waktumu yang berharga. by Tigajully 2025

More details
WpActionLinkContent Guidelines