Pemahaman Jati Diri

Pemahaman Jati Diri

  • WpView
    Reads 76
  • WpVote
    Votes 17
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, May 27, 2021
Novel ini bukan tentang "menceritakan" namun lebih ke "menjelaskan" pandanganku tentang kehidupan didunia yang fana dan panas layaknya ribuan matahari menerpa kita secara blak-blakan. Terkadang kesusahan akan hidup didunia, membuat emosi terkebelakang dibanding kesehatan organ. Emosi yang sensitif membuat kita menjadi benci akan diri sendiri, menyalahkannya dan mengejeknya seakan diri sendiri yang salah. Padahal kalau dipikir-pikir, kita hidup didunia bukan dalam lingkup individual, namun sosial. Ada beberapa alasan yang seharusnya menjadi "jawaban" agar kita berhenti menyalahkan diri sendiri, apalagi diri orang lain. Merugikan orang lain itu tidak baik, sama dengan menyalahkan diri sendiri. Namun, apakah membuat perdamaian dengan diri sendiri bisa meredakan emosi dan menghilangkan rasa penyesalan, menyalahkan, dan mengada-adakan kebeneran yang hanya tipu belaka? Siapa yang tahu... (Akan dianggurkan sementara oleh penulis karena ingin fokus untuk novel lain)
All Rights Reserved
#4
nalar
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Terperangkap dalam Diri
  • DALAM DETAK (SELESAI)
  • NO Khalwat UNTIL Akad (Halal Bersamamu)
  • Diary
  • Buku Ini Gak Konsisten, Tapi Ya Sudahlah
  • Sepasang Sepatu Tanpa Arah [END]
  • Mahligai Sunyi
  • Dynamics Of The HEART (TAMAT)
  • catharsis

Sinopsis: Leonhardt selalu terlihat tenang. Bagi orang lain, hidupnya tampak biasa saja-tidak ada yang tahu bahwa di dalam dirinya, ada sesuatu yang terus menghantuinya. Air, suara bentakan, dan kesepian. Semuanya berawal saat ia tenggelam di danau waktu kecil. Saat itu, ia hampir mati. Yang paling menyakitkan bukan hanya dinginnya air yang menelannya, tapi bagaimana teman-temannya hanya tertawa, mengira ia sedang bercanda. Sejak hari itu, setiap kali melihat air, ia kembali ke saat itu-merasakan dadanya sesak, tangan yang berusaha menggapai sesuatu yang tak ada, dan kesadaran bahwa tidak ada yang benar-benar peduli. Namun, trauma itu bukan satu-satunya yang menghantuinya. Sejak kecil, Leonhardt tumbuh dalam lingkungan yang penuh bentakan. Setiap suara keras membuatnya membeku, membuatnya merasa kecil dan tidak berdaya. Setiap teriakan mengingatkannya pada ketakutan yang tidak bisa dijelaskan. Ia selalu gemetar saat seseorang mulai berteriak, bahkan jika itu bukan untuknya. Di sekolah, ia juga tidak pernah benar-benar merasa aman. Bullying yang ia alami tidak selalu berupa pukulan-sering kali, itu hanya ejekan, bisikan kecil di belakangnya, tatapan yang meremehkan. Tapi semua itu cukup untuk membuatnya merasa tidak berharga, cukup untuk membuatnya percaya bahwa ia memang seharusnya sendiri. Semakin ia tumbuh, semakin semua itu menggerogoti pikirannya. Anxiety yang tidak terkendali, OCD yang membuatnya terjebak dalam pola pikirnya sendiri. Ia tidak bisa berada di tempat ramai, tidak bisa mendengar suara keras tanpa merasa ingin melarikan diri. Setiap malam, ia terjebak dalam pikirannya sendiri, mengulang-ulang semua yang terjadi, bertanya-tanya apa yang salah dengannya. Tapi trauma tidak bisa dihindari selamanya. Ketika sebuah kejadian membawanya kembali ke danau itu, Leonhardt dipaksa menghadapi semuanya. Air yang selama ini ia hindari. Ketakutan yang selama ini ia kubur. Dan kenyataan bahwa mungkin, selama ini ia memang sudah tenggelam, bahkan di daratan.

More details
WpActionLinkContent Guidelines