Aku, Dia dan Sepertiga Malam

Aku, Dia dan Sepertiga Malam

  • WpView
    Reads 104
  • WpVote
    Votes 75
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, May 24, 2021
[ Follow sebelum membaca ya ^^ ] Aku pernah keliru dalam mengartikan rasa, sesuatu yang seharusnya tertata rapih diruang tak berbentuk yang disebut hati oleh kebanyakan orang terlanjur tergores hingga ia membekas pilu. Ternyata aku masih harus belajar mengartikan getaran yang selalu hadir ditiap pertemuan yang tanpa sengaja. Tersenyum pun rasanya aku enggan. Bukan, bukan karena salahmu. ini hanya keliru ku dalam mengartikan. Sebenarnya aku tak masalah dengan hal ini. Aku hanya ingin bertanya, apa yang seharusnya aku lakukan dengan perasaan ini, duhai engkau sosok yang pernah menjadi imamku di sepertiga malam itu ? Pindahan dari akun lama ^^
All Rights Reserved
#386
poligami
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Air Mata Cinta Di Teras Surga ( SELESAI )
  • SEMESTA YANG KU CARI
  • [SB I] Terperangkap Dalam Tanya [COMPLETED]
  • Ketetapan Cinta Dari-Nya [END]
  • Belantara Jiwa (END)
  • Imam Untuk Raina (Selesai)
  • Jodoh Yang Sesungguhnya [Terbit]
  • Sepertiga Malam Bersama Allah
  • Perjalanan Kisah Cinta Afia
  • Eliinaa

Malam ini, beberapa hari setelah aku kembali dari Arab Saudi, aku bersama ayah dan ibuku datang ke rumah salah seorang kerabat ayah untuk bersilaturrahmi di hari raya, dalih kami. Padahal, yang sebenarnya adalah kami memiliki maksud dan tujuan yang lebih utama dari bersilaturrahmi di hari raya, yakni untuk melihat gadis yang diinginkan ibu menjadi calon istriku. "Naira. Naira Salsabila nama lengkapnya. Naira ini adalah putri kandung kami." Begitu ayah gadis yang ingin kulihat itu memperkenalkan putri beliau kepadaku, dan kepada ibu dan ayahku, saat Naira, sapaan si gadis berhijab orange muda, menyajikan teh untuk kami yang sedang bertamu ke rumahnya. Naira, gadis berumur dua puluh tahun itu perlahan mulai mencuri pandanganku. Wajah putih lembut. Pipi yang merona. Tatapan matanya yang sendu. Senyum tipis yang mengunci bibir. Sikapnya yang santun. Pandangan yang senantiasa terkurung sungkan. Semua hal yang sungguh indah lagi anggun di mataku tersebut, seakan tak membiarkan hatiku untuk ragu pada niat suciku terhadapnya. Bahkan, sedikitpun keraguan tak ada bayangan akan tumbuh.

More details
WpActionLinkContent Guidelines