KALA
  • WpView
    Reads 392
  • WpVote
    Votes 35
  • WpPart
    Parts 13
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Dec 11, 2023
WpInfo
Non-Fiction
Kala bibir enggan bertutur, biarkan aksara yang berkata. Perihal duniamu yang kacau, kamu boleh menangis sejadi-jadinya. Namun bila tidak mampu, biarlah tulisan ini mewakilinya. © 2023 Shafira. All Rights Reserved. Cover: 📷 Pexels 📝 Pixellab
All Rights Reserved
#253
antologi
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • METANOIA (REVISI)
  • DUDA COOL(END)
  • Rintik Hujan
  • about us and him ✔️
  • QUOTES TOGETHER #LSC(1)
  • MY HOPE [✔]
  • Aksara Tak Bertuan
  • KIARA [End]
  • Cendala Kasmaran

[SELESAI] BUDAYAKAN FOLLOW SEBELUM MEMBACA Sejak beberapa waktu lalu, Cia merasa hidupnya tidak lagi sama. Pria yang ia kenal sebagai kekasihnya berubah menjadi sosok yang dingin, kasar, dan penuh kebencian. Ia tidak pernah tahu sejak kapan perubahan itu terjadi, yang ia tahu hanyalah rasa sakit yang terus bertambah setiap hari. Dipaksa bertunangan demi uang, dijadikan mesin ATM oleh keluarganya sendiri, dan menjadi sasaran perundungan, Cia bertahan tanpa benar-benar memahami apa kesalahannya. Pria itu membencinya, menunggu kematiannya, namun pada saat yang sama tak pernah benar-benar melepaskannya. Di balik sikap kejam dan identitas yang samar, tersimpan rahasia besar yang perlahan menggerogoti segalanya. Ketika potongan kebenaran mulai muncul, Cia dihadapkan pada pilihan paling berat. Tetap hidup dalam kebohongan, atau menghadapi masa lalu yang selama ini disembunyikan darinya. Sebuah kisah tentang cinta yang berubah tanpa alasan, kebencian yang menyimpan rahasia, dan seorang gadis yang belajar bertahan di dunia yang diam-diam menginginkannya hilang. -------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Aku membencinya atau setidaknya itu yang selalu kupercaya. Dia hidup di tempat yang seharusnya bukan miliknya, bernapas dengan nama dan masa lalu yang tidak lagi utuh. Setiap tatapannya mengingatkanku pada sesuatu yang hilang, pada kesalahan yang tidak pernah bisa ditebus. Maka aku bersikap kejam. Dingin. Menunggu hari dimana keberadaannya benar-benar menghilang. Namun kebencian adalah kebohongan paling berisik. Semakin lama aku menghancurkannya, semakin jelas bahwa ada sesuatu yang tumbuh di sela-sela amarah itu. Sesuatu yang seharusnya tidak ada. Sesuatu yang tidak boleh kuakui. Karena jika kebenaran itu terungkap, bukan hanya dia yang hancur. Aku juga. Selesai: 18 Maret 2022

More details
WpActionLinkContent Guidelines