Senandika

Senandika

  • WpView
    GELESEN 94
  • WpVote
    Stimmen 34
  • WpPart
    Teile 4
WpMetadataReadLaufend
WpMetadataNoticeZuletzt aktualisiert Mi., Sep. 10, 2025
WpInfo
Belletristik
Romantik
* Cinta sepihak tak akan pernah berakhir dengan happy ending. * Ananta hampir mengantongi kata sempurna. Wajah yang menawan, keluarga terhormat, dan kecerdasan yang membuat iya berada di awang-awang. Namun dalam setiap kesempurnaan pasti akan selalu ada celah. Ibarat rembulan yang menawan tapi penuh dengan noda. Hidupnya penuh kebohongan. Orang-orang mempermainkan takdirnya hanya karena tingkat teratas paralel. Hingga pada titik terendah dalam hidupnya. Sosok itu datang, mengulurkan tangan meminta agar Ananta bebas dan terbang tinggi, seperti burung di alam liar. "Kumohon... aku akan hidup dengan baik setelah ini. Melakukan kebaikan dan tidak akan egois kepada siapapun. Aku akan mengabdikan diriku untuk orang-orang. Jadi, aku berharap... dia terus berada di sisiku hingga rambut kami sama-sama memutih." *** ©iskasika
Alle Rechte vorbehalten
Werde Teil der größten Geschichtenerzähler-CommunityErhalte personalisierte Geschichtenempfehlungen, speichere deine Favoriten in deiner Bibliothek und kommentiere und stimme ab, um deine Community zu vergrößern.
Illustration

Vielleicht gefällt dir auch

  • Pelangi yang Telah Lama Hilang
  • Because I'm Stupid (End)
  • Sudut pandang (felisha)
  • GRIZELLE [Completed]
  • LEITHLEACH
  • Nada
  • Savero Archandra || Haechan || END
  • BULAN [END]
  • LENATHAN (hiatus)

"siapapun tante, adik ayah, adik bunda, tetangga atau simpanan ayah, aku anggap tante cuma benalu tau" ucapku memberi penekanan pada kata simpanan. Wajah Tante Dista terlihat terkejut. "heiii.."ia membentakku "ga pernah di didik ya sama bunda mu, ternyata bundamu itu ga becus jadi seorang ibu ya pantas saja ayahmu tergila gila pada ku" "kamu ga usah senang dulu, suatu saat nanti aku yang akan mengusirmu dengan tanganku sendiri" sambungnya Aku menyeringai "barusan kau buat pengakuan kan" tanyaku menatapnya jijik. Tante Dista terlihat kikuk. "hahaa..... Jadi kau memang simpanan ayah. Dan masih sanggup tinggal dirumah kami. Ga tahu malu"ucapku dengan penekanan di kata simpanan dan malu. "kauuu-"ucapnya tertahan ketika bunda mulai mendekati kami. Aku mendekat ke arah tante Dista tetap mempertahankan senyum palsuku. Menginjak kakinya dengan keras, dan pura pura mencium pipinya dengan mesra. Dia menjerit tertahan dan aku senang. Tanganku yang bebas menarik rambutnya yang terjuntai panjang. Dia meringis dan mencengkram tanganku kuat kuat. Bunda tak pernah tau itu. Bunda hanya tersenyum dan menganggap semuanya akan baik baik saja. Padahal aku dan tante Dista sedang menyiapkan strategi perang kami masing masing.

Mehr Details
WpActionLinkInhaltsrichtlinien