Raka tak kuasa menolak ketika mama nya, wanita yang paling ia hormati itu, meminta ia untuk mau berkenalan dengan putri sahabat papa nya, Melisha. Raka tahu, mama nya sudah ingin melihat dirinya menikah di usianya yang sudah menginjak 31 tahun. Ranti, selalu ingin apapun yang terbaik untuk putranya, termasuk soal jodoh. Dan bagi orang tuanya, Melisha adalah wanita yang tepat. Meski demikian, Ranti tak pernah memaksakan kehendaknya sendiri tanpa mementingkan perasaan putra nya. Tidak ada paksaan dari Ranti, ia hanya meminta pada putra nya dengan tatap memohon. Dan Raka pun luluh.
Melisha wanita yang cantik, cerdas, mandiri serta memiliki karir yang bagus. Raka merasa tak keberatan jika harus mengenal lebih jauh wanita itu. Hanya sebatas teman, atau sahabat? Rasanya lebih dari itu pun Raka tak masalah. Melisha memiliki pembawaan yang supel dan bisa menjadi teman mengobrol yang asyik.
Lalu, apakah ketika kita memutuskan untuk menjalin sebuah hubungan yang serius harus selalu berdasarkan cinta? Raka bukan tipe laki-laki romantis, yang dengan mudah mengobral kata cinta. Ia hanya lelaki dewasa yang terlalu cuek untuk urusan yang melankolis. Baginya cinta bisa menjadi nomor ke sekian, yang terpenting dalam suatu hubungan adalah, kecocokan, kesamaan visi dan misi.
Sampai suatu ketika, ia bertemu dengan seorang gadis yang begitu menarik perhatiannya. Raka terpesona. Inikah cinta? Salahkah jika ia jatuh cinta pada wanita lain sementara ia sudah memiliki Melisha?
Gistara Arawinda mengambil keputusan tidak adanya anak dalam pernikahannya. Bukan karena ia tidak menyukai anak-anak. Profesinya sebagai seorang dokter spesialis anak, sudah cukup menggambarkan betapa ia mencintai makhluk polos itu.
Tumbuh dan memelihara luka batin akan pigur seorang ibu, menjadi alasan besar Gistara. Ia takut menjadi seperti ibunya. Ia tak ingin menciptakan luka Gistara yang lain di dalam tubuh kecil anaknya.
Tuhan maha membalikkan hati manusia, sembilan tahun pernikahan mereka, Gistara berubah pikiran. Dalam hidupnya, setidaknya ia harus punya satu malaikat kecil nan menggemaskan itu.
Namun, di tengah proses mendapatkan itu semua, bak disambar petir di tengah hari bolong. Di rumah sakit yang sama, ia mendapati sang mertua merawat wanita muda pasca keguguran anak dari Sultan Arrasyah---suaminya.
Semesta seakan sedang mengoloknya, pandangan remeh sang mertua tentang ketidakmampuan memberinya garis keturunan pun, membuat Gistara memendam tekad.
Di usianya yang ke 37 tahun, akankah ia mampu bersaing dengan wanita yang jauh lebih muda darinya, demi menghadirkan yang diinginkan sang mertua? Terlebih saat hati sang suami perlahan semakin timpang terhadap ia dan madunya? Atau ... ia lebih memilih untuk menyerah dan pergi?