[RE-PUBLISH] Axel dan Vanilla adalah dua jiwa yang terjebak dalam dinamika cinta yang rumit. Hubungan mereka lahir di tengah ketidakpastian, terus-menerus diuji oleh penghakiman orang lain dan rasa bersalah yang mengintai di setiap sudut. Ini adalah kisah tentang memilih: mengikuti insting hati atau bertahan demi sebuah reputasi. Axel, dengan pesonanya yang tak terbantahkan, selalu memiliki cara untuk menarik Vanilla mendekat-menawarkan janji akan kesenangan dan kebahagiaan yang bisa mereka rengkuh bersama. Di sisi lain, Vanilla berdiri di atas prinsipnya. Ia berusaha mati-matian mempertahankan martabatnya, meski jauh di lubuk hati, pertahanannya perlahan runtuh oleh setiap perhatian kecil yang Axel berikan. Setiap pertemuan adalah tarik-menarik yang berbahaya. Setiap percakapan adalah dilema. "Kita punya kesempatan," kata Axel sambil menekan tubuhnya lebih dekat, membuat jantung Vanilla berdebar semakin tak terkendali. "Kesempatan apa yang Kak Axel maksud?" tanyanya kebingungan, dengan nada yang sedikit bergetar. Axel semakin menunduk. Tangannya bergerak menyelipkan helai rambut Vanilla ke belakang telinga. "A chance to start a relationship," jawabnya dengan suara rendah, menahan tangan Vanilla yang berusaha menyingkir dari sentuhannya. "I know you feel the same way, Vanilla." Vanilla terpaku, tubuhnya mendingin sekaligus memanas. Ia sadar, begitu ia mengiyakan, hidupnya tak akan pernah sama lagi.
More details