Geschenk

Geschenk

  • WpView
    Reads 34
  • WpVote
    Votes 6
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Apr 29, 2022
Katanya semua akan indah pada waktunya. Tapi aku berpikir itu kapan akan terjadi. Setiap aku ingin bahagia selalu saja takdir mempermainkan. Aku mencoba untuk memperbaiki semua kesalahanku. Mencoba untuk jadi terbaik agar mereka melihatku, mencoba hal yang tidak aku mampu agar melihat aku. Aku menangis bukan karena cengeng dan ingin mendapat simpati semua orang, bukan karena lemah dan manja. Tapi mengerti lah aku menangis karna tak kuat memperlihatkan seberapa kuat ku lagi. Karna aku tak mampu untuk berkata aku lelah dan ingin berhenti sejenak. mungkin benar bahwa kematian adalah saat dimana kita menjadi baik bagi semua orang.
All Rights Reserved
#65
stres
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Hopeless
  • AMERTA [END]
  • Aleysha Please Don't Go!
  • Kita Sembuh Bareng?
  • Menyerah atau Bertahan?
  • Different (END)
  • Rainie ( END )
  • Garvitara [END]
  • Derena
  • Nanti Juga Sampai
Hopeless

[COMPLETED] "Whoever told you that life would be easy, I promise that person was lying to you." --Kondisi dimana tidak memiliki ekspetasi tentang hal-hal baik yang akan terjadi dan juga kesuksesan di masa mendatang. [Definition of Hopeless] Apakah ini tentang kisah cinta masa remajaku? Astaga, bahkan aku tidak yakin tentang cinta itu nyata. Yang aku tahu hanya luka dan luka. Itu saja. Tangisanku bukan tangisan patah hati, lagipula perasaanku sudah mati. Jiwaku diasuh oleh sepi, hingga teman terbaikku hanya rasa sendiri. Setidaknya aku punya mereka, orang yang mengajariku bahwa aku tidak sendirian. Meskipun ada kalanya aku menyerah dan pasrah. Apakah akhir ceritaku ini bahagia? Apakah aku akan terus berkawan dengan tangisan, hingga aku lupa cara untuk mencari kebahagiaan? Aku hanyalah satu dari ratusan orang yang sakit secara jiwa, aku bersahabat dengan sesuatu yang mereka sebut depresi. Hingga yang kukenali hanya keputusasaan pada masa depan diri sendiri.

More details
WpActionLinkContent Guidelines