Assalamualaikum, Ka Zidan

Assalamualaikum, Ka Zidan

  • WpView
    Reads 32
  • WpVote
    Votes 10
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, May 28, 2021
berawal dari shalat tarawih, berakhir di pelaminan. "Lana anak nya Bu Hajar udah balik pondok, makin ganteng yah dia" "Emang ada ya Bu anak nya Bu Hajar yg mondok?" Ucap gue binggung "Loh kamuu ga tau?" "Engga, emang siapa?" "Itu loh si Zidan" Gue cuman ngangguk-ngangguk doang karna gue emang ga tertarik.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Air Mata Cinta Di Teras Surga ( SELESAI )
  • RAACA 'the power of takdir Allah '
  • my way || [zeeshel]
  • hanya untuk bunda
  • Takdir cinta berawal masjid ( TAMAT )
  • 𝑮𝒖𝒔 𝑪𝒖𝒆𝒌 𝑰𝒕𝒖 𝑨𝒅𝒂𝒍𝒂𝒉 𝑺𝒖𝒂𝒎𝒊𝒌𝒖 [HIATUS]
  • kisah cinta zeaka [nazea & shaka] [END]
  • Di Antara Senja
  • Antara Hati dan Iman ✅
  • Dia Guruku Juga Imamku {ENDING}

Malam ini, beberapa hari setelah aku kembali dari Arab Saudi, aku bersama ayah dan ibuku datang ke rumah salah seorang kerabat ayah untuk bersilaturrahmi di hari raya, dalih kami. Padahal, yang sebenarnya adalah kami memiliki maksud dan tujuan yang lebih utama dari bersilaturrahmi di hari raya, yakni untuk melihat gadis yang diinginkan ibu menjadi calon istriku. "Naira. Naira Salsabila nama lengkapnya. Naira ini adalah putri kandung kami." Begitu ayah gadis yang ingin kulihat itu memperkenalkan putri beliau kepadaku, dan kepada ibu dan ayahku, saat Naira, sapaan si gadis berhijab orange muda, menyajikan teh untuk kami yang sedang bertamu ke rumahnya. Naira, gadis berumur dua puluh tahun itu perlahan mulai mencuri pandanganku. Wajah putih lembut. Pipi yang merona. Tatapan matanya yang sendu. Senyum tipis yang mengunci bibir. Sikapnya yang santun. Pandangan yang senantiasa terkurung sungkan. Semua hal yang sungguh indah lagi anggun di mataku tersebut, seakan tak membiarkan hatiku untuk ragu pada niat suciku terhadapnya. Bahkan, sedikitpun keraguan tak ada bayangan akan tumbuh.

More details
WpActionLinkContent Guidelines