Last Story

Last Story

  • WpView
    Reads 354
  • WpVote
    Votes 70
  • WpPart
    Parts 17
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Apr 6, 2022
Bukankah kebahagiaan adalah milik semua orang? Lantas mengapa masih ada saja orang yang mengharapkan kebahagiaan? Ini bukan tentang siapa yang tak pandai bersyukur, tetapi rasa ingin bahagia layaknya orang lain selalu datang menghampiri. Takdir tak berpihak baik pada Fasla, menjadikan segala tanya dalam kepalanya terus berenang bebas. Melontar pertanyaan yang lagi-lagi sama dengan respon yang tak berubah. Perihal Johan yang segan memberitahu jawaban atas pertanyaan Fasla tentang masa lalu keluarga mereka dan jati diri wanita yang telah melahirkannya. Terkadang terbesit dalam benak Fasla, jika ia diperkenankan memilih lahir dari mana, tentu ia akan memilih Wika--tetangga sebelah rumahnya. Kebahagiaannya harus terenggut paksa oleh keegoisan Johan. Tinggal satu atap, bak orang tak saling mengenal. Di depan Fasla, Johan seakan menghemat suaranya, enggan menjawab segala yang keluar dari bibir mungil anak gadisnya. Pertemuannya dengan seseorang di suatu hari itu, membuat hidupnya terlihat lebih baik, membaut Fasla dapat lebih memaklumi permainan takdir. Hingga pada akhirnya, semua yang tersembunyi akan terungkap. -- Jangan lupa follow akun ini dan akun Instagram aku🦋
All Rights Reserved
#282
literasi
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Dua cangkir satu Meja
  • "Biarlah: Sebuah Kisah Tentang Sunyi dan Luka"
  • Kue Manis & Rasa Pahit | Hyuckna
  • Perihal Sandwich(End)
  • Become an Extra or Main Character [END]
  • Karakter Sampingan (Haechan)
  • Tentang Kota Ini
  • Korban silaturahmi [TAMAT]
  • Duka Devara

Dua cangkir di satu meja. Salah satunya kopi hitam yang mulai dingin, satunya lagi teh hangat yang baru diseduh. Sama seperti mereka-dua orang yang dulu satu keluarga, kini seperti orang asing di bawah atap yang sama. Dewa sudah terbiasa hidup sendiri. Ia bisa makan mi instan kapan saja tanpa ada yang mengomentari. Bisa pulang larut tanpa ada yang menunggu. Bisa menjalani hari-harinya tanpa merasa harus menjelaskan apa pun kepada siapa pun. Lalu datang ayahnya, yang entah sejak kapan mulai mengatur ulang dunianya. Mengajaknya makan bersama, menyeduhkan teh di pagi hari, bahkan diam-diam mengganti mi instan dengan sesuatu yang lebih bergizi. Dewa tidak mengerti-apa yang sebenarnya diinginkan ayahnya? Kenapa setelah tujuh tahun pergi, kini ia kembali dan bertingkah seolah-olah segalanya masih bisa diperbaiki? Di sisi lain, ada Nira, seseorang yang selalu ada untuknya. Tapi kini, ia merasa semakin jauh. Hubungan yang dulu terasa nyaman perlahan berubah menjadi sesuatu yang penuh pertanyaan. Di antara meja makan yang dulu selalu sepi, dua cangkir yang tak pernah sama, dan sepiring mi instan yang akhirnya tak lagi dimakan sendirian, Dewa harus menghadapi sesuatu yang selama ini selalu ia hindari: apa arti pulang yang sebenarnya? Slow fic Sudah selesai ditulis sampai ending, sudah dipublikasikan pula semuanya. Sebab, aku tidak suka menunggu. Jadi, aku tidak akan membuatmu menunggu. 48 bab secara total. Bacalah jika menurutmu layak dibaca, tinggalkan jika menurutmu membosankan. Terima kasih sudah meluangkan waktumu yang berharga. by Tigajully 2025

More details
WpActionLinkContent Guidelines