The Moment We Become 'Us'

The Moment We Become 'Us'

  • WpView
    Reads 2,878
  • WpVote
    Votes 343
  • WpPart
    Parts 7
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Jan 19, 2022
Kenangan adalah kenangan... kenangan tidak memiliki kekuatan, namun ada kenangan yang telah membeku pada miliaran detik yang telah berlalu. Bagi sebagian orang, masa remaja adalah masa yang sangat menyenangkan. Namun lain halnya dengan Kim Yumi dan Lee Hansu, tragedi mengerikan mereka alami di usia mereka yang masih belia. Kim Yumi tidak menyangka hidupnya yang tentram dan bahagia berubah menjadi neraka setelah ia pindah bersekolah ke Seoul. Dalam sekejap, masa depannya menjadi hancur dan impiannya telah pupus. **** Lee Hansu kehilangan orang yang sangat berarti baginya. Setelah peristiwa itu, ia berubah menjadi sosok yang berbeda. Ia menjadi pria yang berhati dingin dan pemarah, Sangat membenci disentuh orang lain. Tidak sembarang orang dapat melakukan kontak fisik dengannya, lebih tepatnya tidak ada yang berani menyentuhnya tanpa seizinnya. Kehidupannya terlihat sempurna dari luar tapi sebenarnya di dalam hati dan pikirannya, ia menyimpan luka yang teramat dalam. ____________ Akankah akhirnya mereka dapat menyembuhkan luka mereka dan menemukan kebahagiaan kembali?
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • It's Always Been You✔️
  • When The Love Falls (END)
  • Because I Love You
  • Wicker Dark
  • Memories
  • Tacenda
  • addorable love( End ) Tahap Revisi
  • R : Reincarnation [complete]
  • My Secret Romance (END)
  • THE REAL LOVE || Taekook✅

Winter, gadis skater serba bisa dari Thunder Clan, merasa seperti terjebak dalam mimpi buruk ketika papanya tiba-tiba meminta, atau lebih tepatnya memaksanya untuk bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumah keluarga teman orang tuanya. "Kalau adek nggak mau, papa bakal bakar semua deck yang rapi tertata di kamar adek sampai jadi abu." Ancaman itu langsung menusuk hati Winter. Deck-deck itu bukan sekadar papan luncur. Mereka adalah bagian dari dirinya, saksi setiap kompetisi dan penopang semangatnya. Mana mungkin ia membiarkannya jadi korban amukan sang papa? Dengan terpaksa, ia pun menyanggupi pekerjaan itu meski artinya harus membagi waktu antara kuliah di Universitas Kwangya dan mengurus rumah keluarga majikannya. Merawat empat anak di rumah itu sebenarnya bukan tantangan besar untuk Winter. Ia bisa dengan mudah mengatasi kelakuan si kembar usil, Jisung dan Ningning yang berusia tujuh belas tahun, juga kepolosan Sakuya yang berusia sebelas tahun dan si kecil Ian yang baru enam tahun. Semua terasa terkendali kecuali satu hal: Jaemin, si sulung yang tampaknya menjadikan Winter sebagai target utama untuk mencari-cari kesalahan. "Bener kamu jago masak? Yakin nggak bakal mati kalau makan masakan kamu?" "Otaknya pinter atau nggak sih? Sayang banget masa muda kebuang percuma. Kamu nggak minat nyambung kuliah?" "Baru pagi-pagi aja udah ngilang. Kamu ke mana emang?" Sumpah, kalau saja Jaemin bukan anak majikannya, Winter sudah lama melibas pria itu dengan deck kesayangannya. Menyebalkan bukan main. Namun, di balik semua adu mulut dan tatapan sinis itu, ada sesuatu yang samar. Perasaan yang pelan-pelan menyusup, tapi tak mungkin mereka akui. Di tengah kesibukan menjadi mahasiswa sekaligus satu-satunya gadis di Thunder Clan, mampukah Winter bertahan menghadapi kelakuan Jaemin yang seakan bisa meruntuhkan dunia? Dan apa yang akan terjadi ketika Jisung, Ningning, Sakuya dan Ian mulai menganggap Winter sebagai kakak mereka sendiri?

More details
WpActionLinkContent Guidelines