Orion
  • WpView
    Reads 360
  • WpVote
    Votes 115
  • WpPart
    Parts 13
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Jul 9, 2021
[AWAS BANYAK TIPUAN!] Pilihan ini begitu rumit bagiku, memilih antara gelap atau terang. Aku tersiksa dengan phobiaku pada matahari, terlihat aneh memang. Namun, itulah kebenaran dan yang ku rasakan setelah kejadian mengerikan itu menghantui pikiran, menghancurkan kehidupan. Bahkan itu semua belum cukup sepertinya untukku. Ini kisahku dengan kembaranku Arion yang juga memiliki phobia, tapi ia phobia pada kegelapan.
All Rights Reserved
#107
fakefriend
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • 02.60 [ 𝐄𝐍𝐃 ]
  • ABOUT ERINE (orine)
  • Memeluk Hujan
  • Semesta Bercerita (βœ“)
  • ARIANLLY. Middle Space's of Memory
  • Shatara [SUDAH TERBIT]
  • Let Me Love You Longer
  • Keyla | βœ”

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❀️

More details
WpActionLinkContent Guidelines