Story cover for KARIA by WIDerea
KARIA
  • WpView
    Reads 18
  • WpVote
    Votes 6
  • WpPart
    Parts 2
  • WpView
    Reads 18
  • WpVote
    Votes 6
  • WpPart
    Parts 2
Ongoing, First published Jun 09, 2021
" Kamu tau ngga kenapa aku memilih nganggap kamu bintang daripada bulan?" Tanya Ian tersebut kepada achi disampingnya


"Karna nama aku bintang" tebak Sachi kepada remaja disampingnya


"Salah" jawab Ian


" Lalu apa dong pian" rengek Sachi dengan kesal sambil menggoyangkan lengan remaja disampingnya


" Karna... Karna jika aku memilih bulan nnti kau tergantikan oleh matahari" jawab Ian yg langsung membuat achi tersenyum Malu


Siapa sangka ternyata malam itu adalah malam terakhir mereka bersama. Apakah mereka akan bertemu kembali? Atau akan saling melupakan?
All Rights Reserved
Sign up to add KARIA to your library and receive updates
or
#43alfa
Content Guidelines
You may also like
You may also like
Slide 1 of 10
FARZAA cover
LOVE STORY QIANARRA cover
Cinta Terhalang Jabatan  cover
ALRIN cover
GUNFA cover
Nada Rahasia di Antara Kita cover
Casserio  cover
SELENOPHILE cover
MaYnOr cover
SOMEDAY [completed] cover

FARZAA

5 parts Complete

"Kenapa di nama panggilan lo, huruf 'A' yang terakhirnya ada dua?", kata gadis itu sambil menengok orang yang ditanyanya barusan, yang kini tengah berada di sampingnya. Ia sempat kaget dengan pertanyaan yang dilontarkan gadis yang berada di sampingnya itu. Pasalnya hanya dia yang memerhatikan namanya dan berani bertanya kepadanya. "Ngapain lo mikirin nama gue? Gak penting banget." Jawab Farzaa akhirnya, tanpa melihat ke arah lawan bicaranya. Gue pokoknya harus tahu, guamamnya dalam hati. "Eh iya sih, yang penting kan, kita bisa menghasilkan uang, kita punya uang, dan kita juga bisa menikmati uang kita." gadis itu tertawa sebelum mengucapkan kalimatnya yang baru ia lontarkan. Ia sungguh tidak percaya dengan apa yang ia dengar dari gadis itu barusan, tapi ia bersikap seolah biasa saja dan berkata "Gak semua orang bahagia karena uang. Dan gak seharusnya juga lo terus jadiin seolah-olah uang adalah segalanya dan uang sebagai pemeran utama dalam kehidupan lo". Gue harus ubah cara pikir lo, batinnya. Sebelum gadis itu menjawab, ia melanjutkan perkataannya. "Uang itu salah satunya. Bukan satu-satunya", ia tersenyum dan berbicara setenang mungkin. "Lalu apa?", balasnya dengan gugup setelah mendengar penuturan laki-laki di sampingnya, yang ia sendiri tidak menyangka tanggapannya akan seperti itu. "..."