Halo Mama!

Halo Mama!

  • WpView
    Reads 26,639
  • WpVote
    Votes 3,812
  • WpPart
    Parts 20
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Aug 16, 2024
Sepulang sekolah Jake tidak langsung pulang kerumah, ia berjalan-jalan hingga pukul enam malam. Di bawah langit yang baru gelap dan lampu-lampu jalan yang mulai nyala, Jake berjalan gontai menuju rumahnya. Ia berhenti di depan toko kue dan teh berukuran kecil dengan nuansa jaman dulu. Pemilik toko tersenyum dan mendekati Jake mengajaknya berkunjung dan menawari promo yang berlangsung esok hari. Awalnya Jake tidak tertarik namun keesokan harinya ia membolos dan menuju toko kue dan teh tersebut, siapa sangka kunjungannya ternyata bukanlah sekedar kunjungan menikmati kue dan teh. Keisengannya membawanya berkunjung ke masa lalu, tahun dimana kedua orang tuanya masih remaja. "Halo Mama, aku Jake sekarang usia aku 17 tahun. Aku anak mama dari masa depan." "Apa yang paling kamu harapkan di hai ulang tahun kamu?" "Dia anak aku"
All Rights Reserved
#179
ehypen
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • It's Always Been You✔️
  • Seribu Bintang !¡ Winter Aespa✔️ END
  • Anak bungsu & sandal legenda (HAECHAN)
  • Na & Liu
  • ETERNITY [END✓]
  • TXT x NOONA (BERSAMBUNG)
  • Rewrite The Star || NCT WISH {END}
  • My Brother[Sequel Mianhae My Brother]
  • May you be strong until the end
  • Jejak Yang Tak Terhapus (Mark Lee)

Winter, gadis skater serba bisa dari Thunder Clan, merasa seperti terjebak dalam mimpi buruk ketika papanya tiba-tiba meminta, atau lebih tepatnya memaksanya untuk bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumah keluarga teman orang tuanya. "Kalau adek nggak mau, papa bakal bakar semua deck yang rapi tertata di kamar adek sampai jadi abu." Ancaman itu langsung menusuk hati Winter. Deck-deck itu bukan sekadar papan luncur. Mereka adalah bagian dari dirinya, saksi setiap kompetisi dan penopang semangatnya. Mana mungkin ia membiarkannya jadi korban amukan sang papa? Dengan terpaksa, ia pun menyanggupi pekerjaan itu meski artinya harus membagi waktu antara kuliah di Universitas Kwangya dan mengurus rumah keluarga majikannya. Merawat empat anak di rumah itu sebenarnya bukan tantangan besar untuk Winter. Ia bisa dengan mudah mengatasi kelakuan si kembar usil, Jisung dan Ningning yang berusia tujuh belas tahun, juga kepolosan Sakuya yang berusia sebelas tahun dan si kecil Ian yang baru enam tahun. Semua terasa terkendali kecuali satu hal: Jaemin, si sulung yang tampaknya menjadikan Winter sebagai target utama untuk mencari-cari kesalahan. "Bener kamu jago masak? Yakin nggak bakal mati kalau makan masakan kamu?" "Otaknya pinter atau nggak sih? Sayang banget masa muda kebuang percuma. Kamu nggak minat nyambung kuliah?" "Baru pagi-pagi aja udah ngilang. Kamu ke mana emang?" Sumpah, kalau saja Jaemin bukan anak majikannya, Winter sudah lama melibas pria itu dengan deck kesayangannya. Menyebalkan bukan main. Namun, di balik semua adu mulut dan tatapan sinis itu, ada sesuatu yang samar. Perasaan yang pelan-pelan menyusup, tapi tak mungkin mereka akui. Di tengah kesibukan menjadi mahasiswa sekaligus satu-satunya gadis di Thunder Clan, mampukah Winter bertahan menghadapi kelakuan Jaemin yang seakan bisa meruntuhkan dunia? Dan apa yang akan terjadi ketika Jisung, Ningning, Sakuya dan Ian mulai menganggap Winter sebagai kakak mereka sendiri?

More details
WpActionLinkContent Guidelines