Balada Cinta

Balada Cinta

  • WpView
    Reads 6
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Jun 11, 2021
Di umur 24 tahun yang sering diburu dengan pertanyaan "kapan nikah?" dan "kapan nikah?", yang membuat seorang Deswita Mandala jengah dengan pertanyaan yang terus beruntun berawal dari "kapan lulus?,kerja dimana?,Gajinya berapa, apa jabatannya?" dan beberapa pertanyaan yang membuat dirinya jengah. Wahai netizen maha benar,ingin sekali Deswita menjawab memang mencari jodoh semudah mencari cabai dipasar. Masa lalu lah yang membuat gadis yang familiar dipanggil Wita sulit menemukan pasangan yang pas untuk mendampinginya untuk seumur hidup bukan seumur jagung. Wahai netizen,catat itu. Kehidupan yang memporak-porandakam hidupnya,membuat dia enggan untuk cepat-cepat mengakhiri masa lajangnya. Yang dipikirkan Wita saat ini karir,pendidikan , uang dan uang yang menjadi segalanya baginya. Apakah Wita dapat menemukan cinta sejatinya,atau tetap memperjuangkan karir, pendidikan dan yang terpenting uang dan uang lagi.
All Rights Reserved
#891
chicklit
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Prenuptial Agreement
  • Teacher
  • Bisakah Aku Bahagia? (END)
  • Denial
  • ᴍᴇɴɢᴇᴊᴀʀ ᴄɪɴᴛᴀ, ᴘᴀᴋ ᴅᴏsᴇɴ
  • Sold Out!!
  • Menjemput Tulang Rusuk
  • Kesana Kemari Tahunya Kamu (END)
  • Perjodohan Berakhir Cinta
  • Teman Halalku

"Tya, kapan kamu akan menikah?" tanya sang ayah. "Nanti, Yah, kalau sudah ada jodohnya," jawaban ringan itu yang selalu menjadi andalan Adistya. "Iya kapan?" tanya kembali ayahnya yang sepertinya tak sabar menginginkan sang putri untuk segera menikah. "Sabar kali, Yah, toh jodoh gak akan ke mana." "Jodoh memang tidak akan ke mana, tapi kalau gak ke mana-mana kapan dapat jodohnya." Kutipan itulah yang selalu ayahnya ucapkan. Membuat Adistya memutar bola matanya bosan. Ayahnya itu gemar menanyakan perihal jodohnya apalagi mengingat usianya yang sudah menginjak angka 27, usia yang sudah cukup matang untuk membina rumah tangga sampai ayahnya gemar sekali mencarikan jodoh yang untungnya tidak pernah berhasil. Adistya lelah begitupun dengan sang ayah, sampai akhirnya sebuah kesepakatan mereka buat untuk perjodohan terakhir Adistya. Kebebasan sudah ada di depan mata, tapi harapan itu harus gagal karena dengan lancangnya kepala Adistya mengangguk mengkhianati hatinya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines