TaK BeRJUDuL

TaK BeRJUDuL

  • WpView
    LECTURAS 15
  • WpVote
    Votos 0
  • WpPart
    Partes 3
WpMetadataReadContenido adultoConcluida sáb, jun 12, 2021
WpInfo
Ficción
Acción y Suspenso
Hai namaku Arumi. Hari ini adalah hari yang sangat menyenangkan, kalian tahu kenapa? kalian harus menanyai guru fisika ku. Di UKS aku baru sadar jika tubuhku mengalami beberapa lebam dan hidungku mendapat sedikit luka gores karena ranting pohon. Dan guru fisika itu, ia masih terbaring lemas di atas ranjang UKS. Biar kutebak setelah kejadian ini aku akan mendapat surat panggilan orangtua dan besok aku akan berangkat dengan ibu atau ayahku. Dan benar saja, aku diizinkan pulang lebih awal. Dengan membawa surat cinta dari kepala sekolah, aku pulang dengan riang gembira. Saat kusodorkan surat itu kehadapan orang tuaku hanya satu kata yang mereka ucapkan. "Lagi?" tanya mereka, sambil memandang wajahku dengan plester yang menepel dihidungku. Aku hanya berlalu kekamar tak berkata apapun. Besoknya kami minum teh diruang kepala sekolah bersama beberapa guru, guru bp dan kepala sekolah itu sendiri. Random sekali kan? mau tahu apa yang kami bicara diruang kepala sekolah. jom mari aku akan menjunjukanya pada kalian.
Todos los derechos reservados
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • Rahasia Dibalik Seragam
  • East sky first love
  • You're my mine[End✓]
  • My Duchess / End
  • mr.bean Ibrahim  End|
  • ESHA�🍓 || (END)
  • COMPLICATED
  • Eliinaa

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido