Story cover for Eighty-Six Volume 2  by raynalle99
Eighty-Six Volume 2
  • WpView
    Reads 78
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 1
  • WpView
    Reads 78
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 1
Complete, First published Jun 14, 2021
Perang tanpa korban.
Republik San Magnolia sudah lama diserang oleh drone militer tanpa awak bernama Legion dari tetangga mereka, Kerajaan Gladian. Setelah bertahun-tahun melakukan riset, Republik ini akhirnya mengembangkan drone otomatis buatan sendiri, dan merubah peperangan yang timpang sebelah menjadi perang tanpa korban-atau paling tidak, hal itu yang diklaim oleh pemerintah.
Kenyataannya, tak ada yang namanya perang tanpa pertumpahan darah. Dibalik dari tembok kuat yang melindungi 85 teritorial Republik terdapat sektor "tak berada" bernama Eighty-Six. Seorang laki-laki dan perempuan muda dari lahan yang ditinggalkan ini dicap sebagai Eighty-Six dan dilucuti dari status kemanusiaan mereka, yang mempiloti senjata tanpa awak menuju peperangan.....
Shinn merupakan pemimpin dari skuadron Eighty-Six. Lena adalah seorang Handler yang memimpin detasemen dari garis belakang dengan bantuan dari teknologi komunikasi spesial.
All Rights Reserved
Sign up to add Eighty-Six Volume 2 to your library and receive updates
or
#25six
Content Guidelines
You may also like
Lukisan Perang dan Salju  by Ariestipe
25 parts Ongoing
Di dunia yang runtuh oleh perang, di mana kehormatan dibeli dengan darah dan cinta menjadi barang asing di medan tempur, berdiri sosok Jenderal Tertinggi Kerajaan Vellatora, dikenal sebagai *Raja Besi dari Utara*. Lelaki yang membawa kehancuran ke setiap tempat yang disentuh sepatunya. Pemimpin tanpa hati, dewa perang yang tak pernah mengenal belas kasihan. Namun segalanya berubah saat ia menaklukkan sebuah desa kecil yang terkutuk di wilayah selatan-dan **Evelin**, gadis miskin yang hidup dalam pengasingan, dicaci dan dihina, namun tetap bertahan dengan kelembutan yang menyayat. Evelin bukan siapa-siapa. Evelin hamil anak sang jenderal, dan rahasia itu bisa mengguncang kerajaan. Ia hidup dalam dilema: mencintai lelaki yang menghancurkan desanya... atau melupakan rasa yang tumbuh dari luka. ....."Aku akan membakar dunia jika kau menginginkannya," bisik Leonardo suatu malam, dengan suara rendah, nyaris seperti doa. "Katakan saja, Evelin. Satu kata darimu, dan semua ini akan hancur." Tapi Evelin tak pernah berkata apa-apa. Ia hanya menatap jendela, pada salju yang turun diam-diam di luar sana-seolah dunia masih bisa bersikap lembut meski penuh luka. Leonardo mencintainya dengan cara yang hanya bisa dilakukan oleh monster yang terlambat menyadari bahwa ia masih memiliki hati. Ia melarang Evelin melihat keluar, tapi ia sendiri membawakan bunga dari pegunungan utara, hanya karena Evelin pernah bilang ia menyukai wangi alam. Ia tidak pernah berkata "Aku mencintaimu" dengan kata-kata biasa, tapi ia mencium kening Evelin seperti sedang menyentuh relik suci, dan mencengkeram tangan gadis itu saat malam datang seolah takut dunia akan mencurinya dalam tidur. Namun Evelin tahu... segala yang indah ini dibangun dari puing-puing orang lain. Dari darah. Dari tangis. Dari nyawa yang tak pernah sempat minta ampun. Ia tahu, bahwa kehangatan ini datang dari lelaki yang pernah menghancurkan desanya, membakar rumahnya. Dan ia juga tahu... ia tak bisa membenci Leonardo.
You may also like
Slide 1 of 3
Lukisan Perang dan Salju  cover
The Alpha's Secret [ SQHY + Diudiu | Wang Yi x Zhou Shiyu SNH48] ABO cover
(END)Assassination Brother᠂⸱ེ̀.𖧷Tokrev x male reader cover

Lukisan Perang dan Salju

25 parts Ongoing

Di dunia yang runtuh oleh perang, di mana kehormatan dibeli dengan darah dan cinta menjadi barang asing di medan tempur, berdiri sosok Jenderal Tertinggi Kerajaan Vellatora, dikenal sebagai *Raja Besi dari Utara*. Lelaki yang membawa kehancuran ke setiap tempat yang disentuh sepatunya. Pemimpin tanpa hati, dewa perang yang tak pernah mengenal belas kasihan. Namun segalanya berubah saat ia menaklukkan sebuah desa kecil yang terkutuk di wilayah selatan-dan **Evelin**, gadis miskin yang hidup dalam pengasingan, dicaci dan dihina, namun tetap bertahan dengan kelembutan yang menyayat. Evelin bukan siapa-siapa. Evelin hamil anak sang jenderal, dan rahasia itu bisa mengguncang kerajaan. Ia hidup dalam dilema: mencintai lelaki yang menghancurkan desanya... atau melupakan rasa yang tumbuh dari luka. ....."Aku akan membakar dunia jika kau menginginkannya," bisik Leonardo suatu malam, dengan suara rendah, nyaris seperti doa. "Katakan saja, Evelin. Satu kata darimu, dan semua ini akan hancur." Tapi Evelin tak pernah berkata apa-apa. Ia hanya menatap jendela, pada salju yang turun diam-diam di luar sana-seolah dunia masih bisa bersikap lembut meski penuh luka. Leonardo mencintainya dengan cara yang hanya bisa dilakukan oleh monster yang terlambat menyadari bahwa ia masih memiliki hati. Ia melarang Evelin melihat keluar, tapi ia sendiri membawakan bunga dari pegunungan utara, hanya karena Evelin pernah bilang ia menyukai wangi alam. Ia tidak pernah berkata "Aku mencintaimu" dengan kata-kata biasa, tapi ia mencium kening Evelin seperti sedang menyentuh relik suci, dan mencengkeram tangan gadis itu saat malam datang seolah takut dunia akan mencurinya dalam tidur. Namun Evelin tahu... segala yang indah ini dibangun dari puing-puing orang lain. Dari darah. Dari tangis. Dari nyawa yang tak pernah sempat minta ampun. Ia tahu, bahwa kehangatan ini datang dari lelaki yang pernah menghancurkan desanya, membakar rumahnya. Dan ia juga tahu... ia tak bisa membenci Leonardo.