Yesterday Haters.

Yesterday Haters.

  • WpView
    Reads 8
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Jun 16, 2021
Jam menunjukan pukul 03.40 dini hari, sudah beberapa bulan aku menjalani rutinitas seperti ini dikarenakan baru saja lulus smk. Aku belum memutuskan akan kemana aku selanjutnya, kuliah kah, kerja kah, entahlah.. saat ini yang aku ingin nya hanyalah memejamkan mata yang kantung nya mulai sedikit menghitam karena begadang terus. "waktunya tidur.." Ucap ku dalam hati, sambil bergegas nge cas hp yang pada saat itu batre nya tinggal 23%, kemudian beranjak untuk mematikan lampu kamar. "semoga hari esok akan lebih baik dan menyenangkan!" Tak butuh waktu lama untuk membuat ku tertidur dengan nyenyak. Yaa, aku adalah pembenci kemarin.
All Rights Reserved
#164
realita
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Tentang Hujan
  • Thats my Love
  • philopobhia
  • Hey, Look Here! [SUDAH TERBIT]
  • Ayesha Transmigration
  • Sebuah Titik : SAGARA
  • Pilihan Takdirku
  • Mr. D [ Kisah Nyata KKN ]
  • Ukhti Khilaf
  • my story

Aku hanya diam, dan orang lain lalu lalang. Aku berdiri di sudut sebuah terminal, menunggu bus yang akan mengantarku berangkat ke sekolah. Mungkin tak tepat juga dikatakan menunggu bus, karena bus yang menuju ke arah sekolah sudah dari tadi berangkat, dan aku melewatkan banyak bus, menunggu hujan reda. Bukannya aku tak suka hujan, aku hanya tidak membenci hujan. Biasa saja. Hanya air yang turun dari langit, itu saja. Tapi banyak orang yang menanggapi hujan dengan berlebihan, seperti yang ada di sekitarku sekarang. Terlihat seorang ibu-ibu yang membawa dagangan yang akan dijualnya di pasar repot menutupi barangnya agar tak kebasahan. Ada seorang bapak yang mondar-mandir dan memakai telepon genggamnya, sepertinya dia seorang bos suatu perusahaan, dia terlihat memaki-maki, bukan memaki orang yang ada di seberang telepon, tetapi memaki hujan. Hujan, kau mau apa sebenarnya?

More details
WpActionLinkContent Guidelines