KETIKA HUJAN

KETIKA HUJAN

  • WpView
    Reads 29
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadComplete Tue, Jun 15, 2021
Dua sepasang manusia yang berbeda jenis kelamin itu duduk di kursi putih pojok taman sembari memandang langit yang mulai menenggelamkan mentari. Senja itu, dia masih merindukan seseorang. Apa dia merindukanku juga, sama seperti wanita yang dirindukan? Sepertinya tidak. Tidak apa apa, aku sudah biasa haha. Sakit memang jika berjuang sendiri dalam hubungan. Tapi, aku tahu aku kuat. Katanya, kalo bener bener cinta sama orang itu, harus diperjuangin kan? "Hujan... Maaf yah. Sekarang maunya gimana? Aku ikut kamu aja, kalo ditanya aku sayang sama kamu ato engga. Sayangggg bangett. But, aku blum bisa cinta sama kamu. I'm so sorry." "Aku masi mau mertahanin. Aku gamau udahan, aku tahu. Kamu blum bisa buka hati buat aku. It's okay. Aku bakal buat kamu ngebulolin aku hehe. Stay dlu ya, walau pikiran sama hati ga stay di hujan, di dia. Gapapa, bertahan dlu yaa..."
All Rights Reserved
#286
reveluv
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • In Someone Elses Shadow
  • A Romantic Story About Renjun || JaeRen
  • The Rain
  • [ √  ] AMERTA ¦ Ft Huang Renjun
  • Memories in Moon
  • Still with you 2  [ Revisi Dan Akan Di Bukukan ]
  • Who Knows?
  • Little Girl : Love Story Begins [END]
  • Je t'aime |Noren |Nomin|
  • KITA BERBEDA (antara Aku, Kamu, dan Tuhan)

"Waktu kedua kalinya kita bertemu, kau berkata bahwa mari menjadi lebih dekat satu sama lain. Then why did we change?" Dennis tidak pernah menyangka kalau satu ciuman di malam itu akan mengubah segalanya. Dulu, Mark hanyalah seseorang yang sering ia lihat di kantin kampus-tertawa bersama teman-temannya, menantang orang untuk bermain basket, atau terkadang tidur siang dengan buku terbuka di dadanya. Seseorang yang seharusnya hanya sekadar 'ada' dalam hidupnya, tidak lebih. Namun, semua berubah sejak perjalanan ke villa itu. Sejak malam di mana bibir mereka bertemu, sejak rasa yang tidak pernah Dennis sadari sebelumnya perlahan tumbuh tanpa bisa ia hentikan. Sekarang, dia duduk di sudut perpustakaan, mencoba membaca buku di hadapannya, tapi pikirannya melayang. Mark masih sama seperti dulu-tersenyum dengan cara yang membuat dadanya sesak, menatapnya dengan tatapan yang sulit ditebak. Tapi ada sesuatu yang berbeda di antara mereka. Sesuatu yang menggantung, tidak terucapkan, seolah hanya menunggu salah satu dari mereka untuk mengakhirinya atau membiarkannya terus ada. Dennis menghela napas, menatap ke arah Mark yang duduk di seberang meja. Matanya bertemu dengan milik Mark sesaat sebelum pria itu tersenyum tipis-senyum yang membuat perutnya terasa aneh. Kapan semuanya menjadi serumit ini?

More details
WpActionLinkContent Guidelines