Story cover for Arlisya by NurmashintadewiNurma
Arlisya
  • WpView
    Reads 1
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
  • WpView
    Reads 1
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
Ongoing, First published Jun 16, 2021
Matanya menatap kelangit,yang menurunkan air demi air yang menetes ke permukaan bumi. Seakan-akan tau apa yang di rasakan oleh seseorang yang sedang berlumur darah di jalan itu. Dia menangis sambil menatap awan yang gelap tanpa adanya bintang dan yang ada,hanyalah air hujan yang membasahi bumi. Dia akui dirinya lemah dan rapuh,sakit yang dia rasakan di tubuhnya tidak sebanding dengan sakit batinnya. Mata itu masih terbuka walaupun cahayanya mulai redup dengan air mata yang berlomba-lomba untuk turun. Matanya menangis mulutnya tersenyum seakan-akan dia baik-baik saja dan mata itu terpancar redup seakan-akan menyatakan orang itu sangatlah rapuh dan mulai terasa berat untuk terbuka.

      "Ter..nya..ta se..sa..kit ini. Aaaku le...lah tuhan.." ujarnya sambil menutup matanya tanda dia sudah lelah dan ingin beristirahat. Mata yang tertutup dengan bibir yang tersenyum, muka nya terlihat damai seperti tak ada beban yang dia pikul.Dia tergeletak di tengah jalan dengan darah yang tak berhenti keluar dari tubuhnya. Air hujan terus mengalir deras membasahi bumi. Semua terasa sunyi dengan air yang terus menetes tanpa mau berhenti. Menjadi saksi bisu di mana seseorang yang telah menyerah dengan semua yang dia rasakan dan merasa semua bebannya hilang.
All Rights Reserved
Table of contents
Sign up to add Arlisya to your library and receive updates
or
#134pilu
Content Guidelines
You may also like
Liberosis by syahdakhairunnisa0
29 parts Ongoing
"Kamu emang anak yang gak berguna! Saya menyesal sudah membesarkan kamu! Apa yang bisa saya banggakan? Gak ada!" "Memang gak ada! Gak ada yang bisa Papa banggain dari aku. Meskipun aku udah berjuang selama ini, itu semua gak ada artinya untuk Papa!" "Anak kurang ajar!" PLAK! Di tengah derasnya guyuran hujan, pria belasan tahun itu melangkah tertatih-tatih dengan darah yang mengucur dari pelipisnya. Wajahnya penuh lebam, sudut bibirnya robek, menyisakan rasa perih yang begitu luar biasa ketika bercampur dengan air hujan. Ia berjalan tak tentu arah di pinggir trotoar, kaos hitamnya basah mencetak dengan jelas bentuk tubuhnya yang atletis, pria itu hanya memakai celana pendek sehingga bulu-bulu di kaki jenjangnya terlihat jelas bahkan udara yang sangat dingin begitu menusuk ditambah tidak memakai alas kaki. Kepalanya menengadah ke atas langit. Membiarkan ribuan rintik hujan itu menampar wajahnya. Matanya terpejam sejenak. Dari radius dua ratus meter tempatnya berdiri, ada sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Sudut bibirnya terangkat. Sepertinya seru, itu pikirnya. Tanpa berpikir panjang, ia melangkah pelan turun ke jalan aspal seperti orang yang tidak berminat untuk hidup. Dari arah kanan, mobil melaju begitu kencangnya tanpa melihat ada seorang yang berdiri di tengah jalan karena ribuan air itu menutupi kaca mobil sehingga sopir tidak mampu menatap dengan jelas. Selamat tinggal, dunia yang menyakitkan. Namun lima meter lagi saat mobil hendak menyentuh tubuhnya, tiba-tiba ada yang menarik pergelangan tangan pria itu dengan begitu cepat. Napasnya berburu kencang. "LO GAK WARAS?!" Perempuan bermata biru itu ... setidaknya itu yang Alvan lihat sebelum matanya benar-benar terutup.
Naura & Lukanya by Chofellate
48 parts Ongoing
⚠️⚠️⚠️⚠️ PERINGATAN: Cerita ini murni hasil pemikiran pribadi penulis. Jika terdapat kesamaan nama tokoh, alur, tempat, maupun kejadian, hal tersebut murni kebetulan dan di luar kendali penulis. Naura Arabella Sanjaya bukan gadis biasa. Di balik senyumnya yang tenang dan sikapnya yang lembut, tersimpan dunia yang tak banyak orang tahu-dunia penuh tanggung jawab yang terlalu besar untuk usia belianya. Sambil tetap bersekolah dan berusaha terlihat seperti remaja lainnya, Naura diam-diam bekerja sepulang sekolah demi mencukupi kebutuhannya sendiri. Ia terbiasa menutupi luka, memendam lelah, dan tetap tersenyum seolah semuanya baik-baik saja. Namun hidup tidak pernah semudah itu bagi Naura. Ketika sebuah pesta yang seharusnya menjadi ajang kebersamaan justru berakhir menjadi titik balik hidupnya, Naura harus menghadapi kenyataan pahit: ia hamil. Di tengah cemooh tak terlihat, penolakan yang perlahan muncul dari sekitarnya, dan beban moral yang begitu menekan, Naura tetap memilih untuk bertahan. Ia tak meminta dimengerti, hanya berharap didengar dan dipahami. Beruntung, di tengah kesendiriannya, ada Adara-sahabat yang setia mendampinginya meski tak tahu sepenuhnya gelapnya dunia Naura. Tapi sampai kapan Naura bisa menyembunyikan rahasianya dari Adara, dari semua orang... bahkan dari dirinya sendiri? Ini adalah kisah tentang keberanian, pengkhianatan, dan perjuangan seorang remaja perempuan yang dipaksa dewasa terlalu cepat. Sebuah kisah yang mengajarkan bahwa tak semua luka tampak, dan bahwa menjadi kuat bukan berarti tak pernah rapuh. ---
You may also like
Slide 1 of 10
Perihal Waktu  cover
Liberosis cover
Hiraeth || Huang Renjun (SUDAH TERBIT) cover
Heart to you.(END) cover
HANYA AKU DAN KAMU cover
Nathalea cover
RAINKA - SUDAH TERBIT cover
Sederet Luka Untuk Indira (Sudah Terbit) cover
Naura & Lukanya cover
AKU HANYA UNTUK NAURA cover

Perihal Waktu

15 parts Ongoing

Perihal hari itu, anggap waktu hanya bercanda. Waktu akan berjalan seenaknya tanpa dia tahu setiap seret yang dia tinggalkan selalu menggoreskan luka yang tidak semudah itu untuk disembuhkan. Ditengah hiruk pikuk kota yang tak pernah berhenti, Jeremy merasakan kekosongan dalam dirinya yang tak bisa terucap. Kehidupannya yang biasa biasa saja tiba tiba dihadapkan pada kehilangan yang menghancurkan. Dalam usahanya untuk menyembunyikan rasa sakit, Jeremy menemukan dirinya terjebak dalam labirin emosi yang gelap. Namun ketika cahaya harapan muncul dari sudut yang tak terduga, Jeremy harus memutuskan antara terus meratapi masa lalunya atau memberanikan diri membangun kembali kehidupannya yang hancur.