Joan Bukan Tuhan || jisung

Joan Bukan Tuhan || jisung

  • WpView
    Leituras 22,238
  • WpVote
    Votos 2,079
  • WpPart
    Capítulos 11
WpMetadataReadEm andamento
WpMetadataNoticeÚltima atualização qua, jul 7, 2021
WpInfo
Ficção
Ação e Suspense
Balita berumur 5 tahun sudah mendapat kebencian dari semua saudaranya, hanya Karna sebuah kecelakaan yang membuat orang tuanya meninggal dunia. Ke 6 saudaranya menyalahkan si bungsu atas kematian orang tuanya,sampai saat ini. "Joan ga bisa bahagia ya?" "Kamu jangan sok kuat Joan,sekarang kamu pergi ke UKS atau sebaiknya kamu pulang" "Joan bukan tuhan,Abang ga pernah ngertiin joan. Joang juga pengen kayak Leon." "Aku tidak mau berteman dengan seorang pembunuh" "Leukimia ku masih stadium awal... Tidak apa kau pasti bisa Joan,bertanlah sebentar lagi.kumohon" "Tunggu sampai abangmu datang Joan sebentar saja"
Todos os Direitos Reservados
#190
bagas
WpChevronRight
Junte-se a maior comunidade de histórias do mundoTenha recomendações personalizadas, guarde as suas histórias favoritas na sua biblioteca e comente e vote para expandir a sua comunidade.
Illustration

Talvez você também goste

  • KARAFERNELIA
  • AKHIR DARI KISAHKU
  • A Little Time For Renjani
  • What about me? (Jaeren)
  • OUR HOME [TAMAT]
  • Second chance | Jenric AU
  • Sesakit itu!
  • Luka Yang Tak Bisa Bicara
  • Jadi Baby?! [Lengkap]
  • Sejenak Luka
  • Jovanka dan Abang Kembar
  • Grantha : Ramadhan Pertama
  • Ayah, Peluk Aku Sekali Saja
  • CINTA AYAH KU DAN KAKAK IPAR KU [END]
  • Harapan Alaska (Jaemin)
  • Rumah Ternyaman
  • Aku Ingin Bercerita

Cerita ini menggambarkan perjalanan emosional Bryan dan Alesha serta dampaknya pada anak-anak mereka, menggambarkan kebahagiaan di tengah kesedihan dan harapan untuk masa depan. .... Raka berdiri di tengah kamar, wajahnya merah dan napasnya memburu. "Lu mending keluar dari kamar gue sekarang juga! Lu cuma ganggu gue, tau nggak? Bicara yang penting-penting aja, jangan cuman bikin ribut!" ujarnya dengan emosi memuncak. Bian, yang sudah lelah dengan suasana tegang, menjawab dengan nada kesal, "Biasa aja napa sih? Iya, iya, gue keluar. Gue nggak akan ganggu lo lagi." Dengan geram, Bian membuka pintu dengan keras dan menutupnya sampai bergetar. Kamar itu kini hening. Raka berdiri diam, meresapi kesunyian yang menggigit. Di sudut kamar, dia membiarkan air mata menetes perlahan, wajahnya tersembunyi di balik tangan. Dalam isak tangisnya, dia berbisik, "Gue nggak benci, gue cuma kangen. Gue pengen banget ngerasain pelukan dari sosok ayah, tapi dia udah punya keluarga sendiri, jadi gue nggak bisa ganggu dia." Raka merasa frustasi dan terpuruk, merasakan setiap detik beratnya kepergian dan kekosongan yang ditinggalkan. Seperti jejak langkah yang meninggalkan bekas, kenangan itu terus menghantui dan menyisakan luka dalam hati.

Mais detalhes
WpActionLinkDiretrizes de Conteúdo