Kata Hujan
  • WpView
    Reads 301
  • WpVote
    Votes 130
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Aug 4, 2021
WpInfo
Fiction
Romance
Huft... Rasanya letih bukan? Hanya berjalan, dan berteduh di bawah sempitnya payung tanpa teduh. "Kadang capek ya, Dik. Dunia kayak ngga bisa ngrestuin antara hati sama jarak. Padahal ... kalo dipikir-pikir, apa mereka ngga bosen terlalu deket?" ujar Aya sambil menikmati guyuran hujan sore ini, tanpa menghiraukan seragamnya yang telah basah kuyup. "Dunia ngga bakal bosen buat uji hati kita Ya, jadi ... ngga ada salahnya hati kita lewatin adrenalin biar bisa nikmatin gulali abang-abang pinggir jalan," jawab Andika dengan tatapan kosong tanpa arah. *** "Maaf, aku harap ... aku bisa bertemu denganmu, untuk terakhir ... dan selamanya." -dari hati yang terlalu dekat untukku dekap.
All Rights Reserved
#86
andika
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Hujan dan Sebuket Dandelion
  • Kasat Rasa [Ongoing]
  • DIANA IS MINE (COMPLETED)✔
  • My Neighbor [Sudah Terbit]
  • BEFUDDLES (SELESAI)
  • Ragione
  • Matahari
  • JAM 3 SORE

Ini tentang keluarga. Juga tentang hujan yang indah. Seperti halnya Naradra Carolina Abastra. Penyuka kaos oversize juga celana training yang sedikit kepanjangan. Gadis biasa-biasa saja dengan rambut panjangnya yang tergerai bebas. Ketika rintik-rintik hujan saling berjatuhan hingga berubah deras. Dia selalu ada untuk melihatnya menyambut bumi. Menciptakan suara melodi yang indah, dibalik awan gelap. Begitu juga dengan bunga dandelion, indah dengan caranya sendiri. Terbang bebas tanpa takut terlihat berbeda. Karena itu Nara suka dengan keduanya. Namun kekakuannya hanya satu, yakni seorang Damantara Gusti Pangestu. Lelaki dengan rambut kecoklatan dan kacamata bulat yang bertengger sempurna menghiasi wajahnya. Bukan laki-laki culun juga berandal. Gusti selalu berhasil menjungkir balikkan hatinya. Dengan mata hitamnya yang memikat. Sayangnya, dia bergerak untuk sebuah rahasia kelam. Namun, jika waktu terus mengikis rahasia yang selama ini mereka tutup. Apakah Tuhan masih memberi kesempatan untuk bersama? Atau justru mereka sendiri yang akan pergi, meninggalkan jejak yang kian dalam? __________________________________________________ Gusti menghela napas. "Mau tau sesuatu?" matanya menatapku begitu serius. "Sesuatu?" Laki-laki itu mengangguk. "Tentang semua ini, yang mungkin buat lo risi?"

More details
WpActionLinkContent Guidelines