Rumah Yang Sama
Dulu, rumah itu pernah dipenuhi tawa.
Empat bersaudara laki-laki tumbuh dalam dekapan bunda yang hangat dan tangan ayah yang selalu sibuk, tapi tetap pulang. Hidup mereka sederhana, tetapi penuh. Lengkap.
Sampai suatu hari, bunda pergi dan segalanya ikut berubah.
Sena si sulung, menenggelamkan diri dalam pekerjaan, menghindari setiap percakapan. Terutama yang berbau kenangan.
Syafiq anak kedua, menjadi pendiam. Ia menyimpan rindu dan terlarut dalam setiap lembaran buku yang ia baca tepat di sudut-sudut rumah, tempat sang ibunda mengisi hari-harinya.
Sadhan anak ketiga, yang masih duduk di bangku SMA, menjadi satu-satunya pelindung bagi si bungsu. Ia menjadi pendengar yang baik terhadap ungkapan-ungkapan ceria dari anak kecil yang ia lindungi.
Dan Sagara...
Anak bungsu berusia enam tahun yang tak mengerti mengapa rumah mereka tidak lagi seramah dulu.
Yang setiap hari menunggu meja makan kembali penuh.
Yang percaya kalau mereka masih bisa berkumpul dirumah yang sama, meski harus menanti untuk beberapa waktu.
Dalam kisah yang berjalan maju dan mundur, melalui kenangan dan kenyataan, "Rumah yang Sama" mengajak kita menyelami kehilangan, luka yang tak terlihat, dan harapan kecil yang tak pernah padam.
Tentang betapa sulitnya menjaga satu sama lain saat hati ikut patah, dan tentang satu anak kecil yang terus percaya bahwa cinta bisa menemukan jalan pulang.