my boyfriend is a guy

my boyfriend is a guy

  • WpView
    Reads 112
  • WpVote
    Votes 27
  • WpPart
    Parts 8
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Jul 22, 2021
gue udah suka sama dia sejak smp. bahkan kami berteman udah sejak sd. namun dia tidak pernah peka terhadap perasaan gue. dan akhirnya alasan dia tidak pernah suka sama gue adalah karena ternyata dia seoarang guy. menurut kalian gue harus apa? gue harus apa saat dia terang-terangan suka sama cowok dan ternyata cowok itu suka sama gue. gue harus gimana? panik dong. semuanya itu rumit. gue nggak tau harus nyikapinnya gimana. namun satu hal yang pasti perasaan gue tidak pernah berubah. apapun keadaan dan kondisinya yang bahkan di luar dugaan gue. menurut kalian mampukah gue menghadapinya dan akhirnya gue mendapatkannya. ataukah dia malah teguh sama pendiriannya. tapi kalau gue bisa. gimana caranya? cerita komedi romantis ini akan gue tulis se kocak mungkin dan yang pastinya juga romantis. namun gue juga tidak melupakan adegan bawangnya. semoga suka dan jangan lupa vote
All Rights Reserved
#581
imut
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • GAIRAH CINTA HOT DUDA (TAMAT)
  • Zona Baper
  • 20. Pamanku Brondong Mesum (FIN)
  • my story
  • Orang Ketiga
  • Here I'm Waiting For [You]~(END)
  • ONE MORE
  • Because I'm Stupid (End)
  • Davin
  • 36 days with you {saida} [End]

"Iya sih, enggak penting juga. Enggak ada hubungan juga sama gue, cukup tahu aja," Mince mengambil tisu lalu mengusap air mata dan terkekeh. Ia hanyalah sebagian keryawan kecil di sini. "Udah jangan sedih lagi, nanti nyokap lo tambah sedih liat lo kayak gini," "Iya sih," "Makan yuk, udah jam 12 nih, gue laper," Dina menenangkan Mince. Mince menarik nafas menatap form form yang ada di atas meja, "Tapi kerjaan gue banyak," "Udahlah dikerjain nanti aja, lo harus makan dulu biar kuat," "Kuat ngapain?," "Kuat bercinta," timpal Dina. "Itu sih lo, bukan gue," Seketika Dina tertawa ia melirik Mince berdiri di sampingnya, "Bercinta itu asyik tau," "Ya asyiklah, kalau enggak asyik orang enggak mungkin bela-belain bulan madu sampai ke ujung dunia demi buat anak banyak-banyak," ucap Mince asal, melangkah keluar dari office. "Emang lo pernah ngerasain?," "Enggak," "Nanti kalau udah punya pacar dicoba aja," "Ogah," "Enak tau," "Ih apaan sih lo," "Gue pernah coba sama pacar gue, rasanya enak," "Ih ...," "Makanya cari cowok, biar bisa enak-enak," "Ih Dina !, lo apa-apaan sih cerita ginian," "Biar lo tau lah," "Asemmm," Tawa Dina kembali pecah, mereka berjalan menuju EDR. Ia senang melihat Mince kembali tertawa. Ia tahu bahwa wanita cantik ini begitu menyayangi ibunya lebih dari apapun. Sehingga rela menjual barang berharga miliknya demi pengobatan sang bunda. Ia sengaja berbicara seperti ini demi melihat tawa Mince.

More details
WpActionLinkContent Guidelines