Dear, My Brother Kenan

Dear, My Brother Kenan

  • WpView
    Reads 41
  • WpVote
    Votes 10
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jul 4, 2021
WpInfo
Fiction
Romance
Kenan itu abang nya Nasya. Kenan sangat menyayangi Nasya. Tapi itu dulu, sejak kejadian 2 tahun lalu perilaku Kenan berubah terhadap dirinya. Umpatan kasar, bahkan tindakan kasar sering Kenan lakukan terhadapnya. Entahlah, Nasya hanya berharap Kenan bisa memperlakukannya sebagaimana mestinya. Layaknya menerima kasih sayang dari kakak ke adiknya. PLAGIARISM STAY AWAY!!
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Pelangi yang Telah Lama Hilang
  • Sejenak Luka
  • broken twins
  • Strong Girl Michella (END)
  • Brother and Sister [END]
  • NYAMAN [Proses Revisi]
  • DeKaNa (END)
  • Forever Yours
  • Me a Di? [COMPLETED]
  • ALGARA & ALTARA [End]✓

"siapapun tante, adik ayah, adik bunda, tetangga atau simpanan ayah, aku anggap tante cuma benalu tau" ucapku memberi penekanan pada kata simpanan. Wajah Tante Dista terlihat terkejut. "heiii.."ia membentakku "ga pernah di didik ya sama bunda mu, ternyata bundamu itu ga becus jadi seorang ibu ya pantas saja ayahmu tergila gila pada ku" "kamu ga usah senang dulu, suatu saat nanti aku yang akan mengusirmu dengan tanganku sendiri" sambungnya Aku menyeringai "barusan kau buat pengakuan kan" tanyaku menatapnya jijik. Tante Dista terlihat kikuk. "hahaa..... Jadi kau memang simpanan ayah. Dan masih sanggup tinggal dirumah kami. Ga tahu malu"ucapku dengan penekanan di kata simpanan dan malu. "kauuu-"ucapnya tertahan ketika bunda mulai mendekati kami. Aku mendekat ke arah tante Dista tetap mempertahankan senyum palsuku. Menginjak kakinya dengan keras, dan pura pura mencium pipinya dengan mesra. Dia menjerit tertahan dan aku senang. Tanganku yang bebas menarik rambutnya yang terjuntai panjang. Dia meringis dan mencengkram tanganku kuat kuat. Bunda tak pernah tau itu. Bunda hanya tersenyum dan menganggap semuanya akan baik baik saja. Padahal aku dan tante Dista sedang menyiapkan strategi perang kami masing masing.

More details
WpActionLinkContent Guidelines