Teh Melati

Teh Melati

  • WpView
    Reads 143
  • WpVote
    Votes 17
  • WpPart
    Parts 13
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Aug 14, 2026
WpInfo
Fanfic
NCT
Original Character (OC)
Band and Group
Famous Figure: Musician
Secangkir teh hangat beraroma melati akan selalu tersedia di meja. Mengepul wangi saat dituangkan ke cangkir keramik cantik milik Bunda. Tak hanya sekedar seduhan petang, di rumah Jingga, wedang ini bagaikan pembuka hati. Saking seringnya diseduh, lambat laun seakan menjadi sebuah tradisi sebelum mencurahkan keluh kesah maupun menceritakan kisah gembira. Pahit, sepat, harum teh melati hangat ini selalu berhasil menyihir siapapun yang mencicipinya. Kisah dunia kecil seorang gadis bersama tiga saudaranya juga sang Bunda tersurat dalam buku ini. Enjoy~~ ©rlachocobar °• do not plagiat/copy my story •° ❗Jangan dibawa-bawa ke dunia nyata ❗
All Rights Reserved
#240
siblings
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓
  • Perihal Sandwich(End)
  • KenZian [END]
  • Seven Rules
  • MATAHARI 🌻(Lanjut di Book MATAHAHARI🌻- II)
  • Twin Stars
  • Magical Family
  • Crazy Rich, Papa [WayV] ✔
  • Jisung harem🐹 Wayv Ver (END)

Novel bisa dibeli di Shopee Jaehana_Store BAGIAN KEDUA SAPTA HARSA VERSI NOVEL || KLANDESTIN UNIVERSE "Kenapa lo jahat sama gue! Kenapa kemarin lo pergi? Kenapa? Kenapa lo ninggalin gue? Kenapa lo tega, Jen?" Haikal tak bisa lagi menahan kesedihan yang telah menumpuk di dalam dirinya. Jendral hanya tertawa kecil. "Lo ngomong apasih, Kal? Gue nggak pergi ke mana-mana, kita kan selalu sama-sama. Gue mana pernah ninggalin lo. Ayo ikut, gabung sama yang lain." Ia menarik tangan Haikal, mengajaknya berlari menuju sisi lain dari air mancur itu. Di sana, semua anggota Klandestin berkumpul. Beberapa duduk di atas ayunan yang berderit pelan, ayunan tersebut dihiasi dengan lampu-lampu kecil yang mengelilinginya. "Bang Haikal! Kenapa telat? Kita nungguin loh!" seru Cakra. "Kal, sini, ada mainan yang cocok buat lo," tambah Reihan. Namun, Haikal menggeleng. Ia justru menggenggam erat tangan Jendral di sampingnya. "Kenapa, Mbul? Main sana," Jendral menatapnya dengan heran. Haikal menggeleng lagi, kali ini dengan lebih kuat. "Gue takut," bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. "Takut?" Jendral tertawa, seolah-olah hal itu adalah lelucon. "Seorang Haikal takut?" Haikal mengangguk, menahan diri untuk tidak menangis. "Gue takut kalo genggaman tangan gue lepas, lo bakalan pergi."

More details
WpActionLinkContent Guidelines