We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Hujan Malam

Hujan Malam

  • WpView
    Reads 11
  • WpVote
    Votes 11
  • WpPart
    Parts 8
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Jan 11, 2023
WpInfo
Fiction
Romance
Justin, lelaki ber Hoodie hitam dengan tangan terkepal kuat dibawah derasnya hujan, ditambah waktu yang menunjukkan pukul tengah malam membuat susana mencekam. Dengan hati gelisah akan trauma masa lalu membuat hatinya bergemuruh takut, namun tangan kecil nan lembut memeluk tubuhnya, memberikan rasa hangat dan nyaman di hati, apa lagi mendengar suara lembut nan menenangkan membuat hatinya merasa tenang. "Tenanglah Justin, aku akan selalu ada buat kamu... dan aku.... tidak akan pernah meninggalkan mu.." ucap gadis itu dengan tulus. Gadis ini, gadis yang selalu membuatnya mengembalikan semangat menjalani kehidupannya yang suram. NO PLAGIAT 🚫 Cerita hasil dari karya sendiri.
All Rights Reserved
#398
kisah
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • PEREMPUAN YANG MENCINTAI HUJAN
  • LOVE RAIN
  • Senja Dan Rindu
  • Pelangi Setelah Hujan (END)
  • Di Tengah Badai Hujan Tiba
  • Sampai Hujan Terakhir (END)
  • Kita yang tak bisa bersama
  • Aku, Kamu dan Hujan
  • Rain

Semua orang menunggu dengan dada berdegup kencang. Kabar yang berembus sejak semalam tentang badai yang mengamuk di tengah lautan, membuat masyarakat pesisir pantai dilanda kecemasan. Begitu juga dengan Sekar, anak perempuan Haji Zainal juragan kapal, dirundung kegelisahan. Ia tak bisa nyenyak tidur semalam, pikirannya terus saja melayang pada Azzam yang terombang-ambing di atas kapal. Saat mentari belum sepenuhnya terjaga, Sekar berlari menuju dermaga. Kakinya melangkah cepat. Gerimis dari sisa hujan semalam tak dihiraukannya. Panggilan Haji Zainal juga tak digubrisnya. Pelabuhan telah ramai orang menunggu dalam diam. Semua mata memandang ke arah lautan dengan tatap penuh pengharapan. "Cuaca sedang tidak bagus, Bang. Angin barat mulai datang." Sekar menjawab sambil merunduk saat Azzam berpamitan di halaman belakang. Azzam yang kala itu harus mengambil jaring di gudang belakang, tanpa sengaja bertemu dengan Sekar. "Doakan saja Abang, ya. Insya Allah tidak ada apapun yang akan terjadi." Suara Azzam bagai obat penenang bagi Sekar, gadis itu mengangguk perlahan. Ikhlas melepas kekasihnya pergi berlayar ke tengah lautan. Sekar sudah merapal doa sepanjang siang, bahkan hingga malam. Apalagi ketika hujan deras mulai turun disertai angin kencang, Sekar tak henti memutar biji tasbihnya, mendoakan sosok lelaki yang ia harap kelak menjadi imam dalam hidupnya. Sekar mengusap matanya yang basah. Matahari telah sepenuhnya menampakkan diri, membelai kulit Sekar yang mulai kemerahan. Banyak kapal yang sudah bersandar, tetapi kapal yang dinaiki Azzam belum keliatan ujung haluannya. Seseorang menepuk bahunya, ia menoleh. Haji Zainal telah berdiri di belakang Sekar menyusulnya. "Ayo, pulang, Nduk. Apa yang kau cemaskan?" Sekar tidak menjawab ajakan bapaknya, matanya tetap awas mengamati satu persatu perahu yang mulai menurunkan jangkarnya. Semua orang tersenyum penuh kelegaan, kecuali dirinya yang masih termangu di ujung dermaga menunggu kepulangan Azzam.

More details
WpActionLinkContent Guidelines