Do you remember your first cup of coffee?

Do you remember your first cup of coffee?

  • WpView
    Reads 2,060,673
  • WpVote
    Votes 180,639
  • WpPart
    Parts 57
WpMetadataReadMatureComplete Sat, Apr 2, 2022
WpInfo
Fiction
Romance
[SELESAI] "Lo ngomong langsung ke dia?" Medhya mengangguk mantap. "Bilang kalau lo suka sama dia?" Ia mengangguk lagi. "Yang lo maksud itu, Ginan Satyatama yang ada dipikiran gue, kan?" Medhya menyerngit. "Memang, ada berapa Ginan Satyatama di kantor kamu?" Gadis itu balik bertanya. "Ya ... satu, sih." Sang teman garuk-garuk kepala. "Maksud gue. Elo ini ..." ia mengangkat telunjuk kearah pelipis, memutar-mutarnya dengan perlahan. "... sinting?" Medhya menggeleng santai. "Aku waras. Seenggaknya, sampai detik ini, masih." Sang teman menghela napas panjang. "Pantesan tiap papasan, dia selalu ngelihat gue kayak ngelihat tai kucing. Ternyata ini semua gara-gara elo." Medhya nyengir. "Terus gimana lagi sekarang?" Adinda bertanya lagi. Ia mendekat pada Medhya yang kini bersandar di kursi ruang tengah kontrakan. "Nyerah?" Medhya langsung menoleh. "Mana mungkin," ujarnya pendek, senyum-senyum. "Dia nggak nolak aku. Kenapa aku harus menyerah?" Betul. Ginan Satyatama tak pernah menolaknya. Saat mendengar pengakuannya, lelaki itu hanya menatapnya datar, lalu mengatakan beberapa kalimat yang tidak mengandung sedikitpun penolakan. Itu artinya, kesempatan Medhya masih terbuka lebar. Masih banyak hari yang tersedia untuk menyatakan kembali perasaannya pada Ginan Satyatama. Jadi, bagaimana bisa Medhya menyerah kalau kisah mereka bahkan belum dimulai sama sekali?
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Oh, My Sugarman
  • ALDINAYA [Sudah Terbit]
  • Soulmate
  • SAHABAT SATU ATAP ✓
  • END | I Will Avoid the Death Flag
  • Bayang Keabadian ✔
  • AL - TA [END]
  • Beauty and the Boss
  • GATARARA
  • The Home He Lives In [COMPLETED]

Saat Zafran kembali setelah menyelesaikan pendidikannya, dia bertemu kembali dengan cinta pertamanya Naya. Saat Zafran mulai memberanikan diri untuk mendekati wanita pujaannya, laki-laki lain justru sudah siap melamar gadis impiannya itu. *** Pada akhirnya semua yang bilang sayang, akan kalah dengan yang melamar lebih dulu. Naya hanyalah gadis biasa yang sedang berusaha menyelesaikan studi magisternya. Hari-hari Naya dihabiskan dengan belajar dan jika sedang di rumah, ia akan membantu pekerjaan rumah. Kini di usia Naya yang hampir mendekati seperempat abad, seperti ibu-ibu pada umumnya, Ratih-ibu Naya terus mendesak Naya untuk menikah meski Naya sendiri masih belum siap untuk menikah. Suatu hari saat kembali ke Yogya, Naya bertemu kembali dengan Zafran, teman masa kecilnya yang kini telah menjadi laki-laki dewasa dan mapan. Entah kebetulan atau tidak, Naya mulai menerima setangkai mawar setiap hari dari pengirim yang entah siapa. Ada pula Aji, yang tanpa basa-basi menunjukkan secara gamblang akan ketertarikannya terhadap Naya, dan melamarnya. Lalu siapa yang akan dipilih Naya?

More details
WpActionLinkContent Guidelines