Auristela Allisya S.

Auristela Allisya S.

  • WpView
    Reads 85,406
  • WpVote
    Votes 3,326
  • WpPart
    Parts 35
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, May 8, 2024
"Lala, Lo apain buku gue!!!" Teriak Alen marah seraya melihat buku catatannya yang hancur tak berbentuk. Lala hanya mengernyit. "Itu karena Abang gak ngizinin Lala buat sekolah di luar." Jawab Lala santai, "Jadi yang rusakin buku gue itu beneran Lo?" Tanya Alen tak percaya. Lala hanya mengangguk tanpa dosa. "Lo ikut gue sekarang, gue bakal kurung Lo dikandang anjing." marah Alen dengan sangat geram. "Apa?! Nggak, Lala gk mau." Ucapnya mendengus. Alen menyeretnya namun tiba-tiba Lala menggigit lengannya dan, "LALAAAAA..." Teriak Alen saat melihat Lala lari dari hadapannya. Lala berlari sekencang mungkin dengan tawa yang keras. "Lala berhenti, atau Gue gk bakal kasih ampun Lo lagi!! LALAA...," Teriaknya dengan sangat kesal. Lala hanya cekikikan seraya tetap berlari.
All Rights Reserved
#28
bandel
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • Hypocritical (Zeedel)
  • SELA ta KEY [END]
  • Leaskandaro
  • Laura Lateranita Putri Victor
  • [♀️] Rahasia Lala
  • Arunika
  • ICE BOY (SUDAH TERBIT)
  • Alia dan Popok
  • Dear.  Pak DIMAS ( Selesai )
  • ALRIN
  • Albel
  • Sweet But a Little Psycho (COMPLETED✔)
  • ALVANSA [Completed]
  • Belia & Keandra (END)
  • tentang sebuah rasa
  • Marrying Dear Teacher ✔ (Tersedia di Gramedia dan Shopee)
  • ice bear kesayangan

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

More details
WpActionLinkContent Guidelines