Auristela Allisya S.

Auristela Allisya S.

  • WpView
    LECTURAS 85,415
  • WpVote
    Votos 3,326
  • WpPart
    Partes 35
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación mié, may 8, 2024
"Lala, Lo apain buku gue!!!" Teriak Alen marah seraya melihat buku catatannya yang hancur tak berbentuk. Lala hanya mengernyit. "Itu karena Abang gak ngizinin Lala buat sekolah di luar." Jawab Lala santai, "Jadi yang rusakin buku gue itu beneran Lo?" Tanya Alen tak percaya. Lala hanya mengangguk tanpa dosa. "Lo ikut gue sekarang, gue bakal kurung Lo dikandang anjing." marah Alen dengan sangat geram. "Apa?! Nggak, Lala gk mau." Ucapnya mendengus. Alen menyeretnya namun tiba-tiba Lala menggigit lengannya dan, "LALAAAAA..." Teriak Alen saat melihat Lala lari dari hadapannya. Lala berlari sekencang mungkin dengan tawa yang keras. "Lala berhenti, atau Gue gk bakal kasih ampun Lo lagi!! LALAA...," Teriaknya dengan sangat kesal. Lala hanya cekikikan seraya tetap berlari.
Todos los derechos reservados
#128
kekang
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • Albel
  • Hypocritical (Zeedel)
  • Arunika
  • Belia & Keandra (END)
  • ALVANSA [Completed]
  • Leaskandaro
  • [♀️] Rahasia Lala
  • Sweet But a Little Psycho (COMPLETED✔)

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido