Lia tumbuh dalam sunyi yang tidak pernah benar-benar terlihat. Ia belajar sejak kecil bahwa berbicara dan diam sering kali menghasilkan hal yang sama: tidak didengar. Kata-katanya berakhir sebagai gema yang hilang di antara kesibukan orang lain, sementara perasaannya perlahan terkubur oleh harapan dan penilaian yang tidak pernah ia minta. Kehilangan ayah menjadi luka pertama yang mengubah cara Lia memandang dunia. Sosok yang pernah menjadi tempat pulang itu hilang terlalu cepat, meninggalkan ruang kosong yang tak pernah benar-benar terisi. Sejak saat itu, ia berjalan dengan hati yang setengah tertinggal di masa lalu, membawa rindu yang tidak memiliki tujuan dan pertanyaan yang tidak memiliki jawaban. Di tengah keluarganya sendiri, Lia sering merasa seperti orang asing yang kebetulan memiliki nama yang sama dalam sebuah silsilah. Ia hadir, tetapi keberadaannya jarang benar-benar dirasakan. Ia berusaha menjadi cukup baik untuk diterima, cukup kuat untuk dibanggakan, dan cukup sabar untuk dipahami. Namun semakin keras ia mencoba, semakin ia merasa bahwa dirinya hanyalah bayangan yang mudah dilupakan.
More details