Our Secrets

Our Secrets

  • WpView
    Reads 528
  • WpVote
    Votes 10
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, May 26, 2025
Tentang Anya yang menjadi si caper agar mampu melupakan masa lalunya. Tentang Jo dengan keinginan kuat untuk bisa terlepas dari sang Papa. Tentang Jeno, remaja yang merelakan mimpinya untuk melanjutkan perjuangan sang Kakak. Tentang Zee bersama tekad besar hanya untuk sekadar mendapatkan kalimat pujian. Tentang Tri yang menyadari waktunya takkan lama lagi. Dan tentang Jerry yang kesepian. Mereka enam remaja yang menyulap diri untuk menjadi sosok penuh ambisi. Bersaing dengan banyaknya murid pandai di Althera Medical School, meski sebenarnya bukan di sana mimpi yang ingin mereka wujudkan.
All Rights Reserved
#135
cerdas
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • PERFECT BAD COUPLE (TERBIT)
  • ALEA (TAMAT)
  • ALBAR
  • ASKARA [END]
  • LOST IN CLASS [ TAHAP REVISI]
  • Moment: Moment, Time, End
  • Rahasia Rasa (COMPLETE)
  • FOR A KINDER WORLD
  • The Real Of Me
  • SAMUDERA

Beberapa detik tatapan mereka beradu. Athur menajamkan tatapan saat Milla terus menatap matanya. "Jangan berani tatap gue!" "Kenapa? Mata lo sakit?" Bukan mundur. Milla malah semakin maju. "Jangan lihat mata gue!" tegas Athur memalingkan wajah. "Oo jadi lo itu sakit mata? Atau mata lo ada beleknya ya? Dih jorok." "Diam!" Milla tersenyum menantang. Ia pindah posisi di depan Athur sehingga cewek itu semakin leluasa menatap mata Athur. Milla mempertajam penglihatan. Ia penasaran, memang ada apa di mata Athur. "Mata lo baik-baik aja. Gak merah tuh," ucapnya bak seorang dokter spesialis mata. Athur menunduk menatap mata Milla penuh amarah. "Minggir." Satu kata keluar penuh penekanan. Bukan Milla jika segera mundur saat ada hal yang menyenangkan. Milla malah semakin maju dan menatap mata beriris hitam pekat itu. "Jangan-jangan mata lo katarak ya. Atau malah mata lo punya virus menular jadi orang lain gak boleh lihat mata lo," ucap Milla bernada berlebihan. Sampai-sampai ia membelalakan mata, membuka mulut serta meletakkan kedua tangan di pipi. Emosi yang sejak tadi Athur kendalikan kini sudah di ujung tanduk. Baru kali ini ada orang yang berani menatap matanya. Bahkan sedekat ini. Apalagi baru kali ini kata-kata dingin Athur tidak mempan. Saat semua orang menunduk ketika Athur mengedarkan pandangan. Milla berbeda. Saat semua orang takut untuk berbicara dengan Athur. Milla berbeda. Dan saat semua orang diam ketika Athur berbicara. Milla berbeda. Tatapan Athur lurus pada mata Milla. "Gue akan buat lo nyesel berani tatap mata gue!" tegasnya bernada mengancam.

More details
WpActionLinkContent Guidelines