We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
My Precious Ones

My Precious Ones

  • WpView
    Reads 406
  • WpVote
    Votes 54
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Oct 7, 2021
WpInfo
Fanfic
Tokyo Revengers
Tokyo Revengers Fanfiction "Aku ingin dua orang yang sangat berharga bagiku bisa hidup bersama. Aku akan menjadi orang yang paling bahagia melihat kalian berdua sampai menuju ke jenjang pernikahan dan membentuk sebuah keluarga." *** "Belajar menjadi kakak yang baik dariku? Apa maksudmu mengatakan itu padaku, sedangkan kau membesarkan kedua adik perempuanmu itu sejak kecil sendirian ketika ibumu sibuk bekerja! Aku yang seharusnya belajar darimu." "Kau adalah seorang wanita sekaligus kakak yang luar biasa yang pernah kukenal dalam seumur hidupku. Karena itu, aku ingin sekali belajar banyak darimu untuk menjadi sosok kakak yang baik." © The characters belongs to Ken Wakui Art by @illust_ratte (Voice of Hearts)
All Rights Reserved
#1
yuzuhashiba
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • F.R.I.E.N.D.S ; The reason of parting (END)
  • Tacenda | Tokyo Revengers
  • Kerjaan anak Tokrep
  • OUR WORLD
  • So Long!
  • ✔️ Matsuno Chifuyu Twins (oc male reader)
  • IDOL & MODELS - KUROO TETSURO
  • Please Look At Me || Tokyo revenger-BajiFuyu[Story] ||
  • ✓ ❝ Sano Shinichiro x Reader - Boyfriend Series
  • Sorry, I'm Not a Boy (TokRev x Reader) [END]

"Aku sangat mencintainya. Setiap malam aku selalu memikirkannya. Tapi apa dayaku? Di matanya aku hanyalah sahabat yang mungkin sudah dianggap seperti saudara sendiri. Kerap kali aku cemburu ketika dia bersama dengan wanita lain. Namun dia selalu tidak menganggap kegusaran hatiku. Membiarkan aku tenggelam dalam kepedihan, sendirian." "Dia cantik, sejak awal aku memandangnya telah ada rasa yang tak biasa. Matanya selalu mengundang getaran yang mendesirkan darah, mendebarkan jantung, hingga jari-jari bergetar hebat. Tapi rasa hanya sekadar rasa. Aku tak mampu untuk mengungkapkannya. Kedekatan kami tidak seromantis itu. Ada tembok besar berkedok persahabatan yang menghalangi hatiku untuk berbisik ke telinganya. Mungkin hingga kini dia pun hanya menganggapku tak lebih dari sekadar sahabatnya." "Biarlah aku diam, meski sebenarnya sangat ingin mengutarakan. Acapkali, menjadi pembohong itu perlu. Karena memang tidak semua kejujuran itu baik adanya. Mungkin selamanya hanya aku yang tahu tentang perasaan ini. Sudah tekadku. Demi kamu, demi dia. Demi kita."

More details
WpActionLinkContent Guidelines