ARINI
  • WpView
    Reads 22
  • WpVote
    Votes 5
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jul 3, 2021
WpInfo
Fiction
Romance
Aku ingin bersamamu sekali lagi seperti saat kita menikmati bianglala di tengah kota saat senja datang menghias cakrawala dan kau menatapku dengan terpesona kau kata, ini taka akan terlupa Aku ingin bersamamu sekali lagi menikmati setiap rintik hujan di pagi hari kala kau menarik diriku agar ikut menari padahal kau tahu, aku benci hujan pagi Aku ingin bersamamu sekali lagi ketika saat kau tertawa mendengarku menyanyi atau saat dimana kau tersipu malu ketika kukatakan isi hati ini padamu Aku ingin bersamamu sekali lagi meski saat beberapa menit sebelum kau pergi agar aku bisa merasakannya lagi cintamu yang begitu murni bukan sepi yang tercipta ini Aku ingin bersamamu sekali lagi iya, aku memintanya sekali lagi meski kutahu tak akan mungkin terjadi -Arini-
All Rights Reserved
#396
lugu
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Salah Status [END]
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • Nakula
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Kembang Desa
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • Prahara Lamaran [END]
  • Stand by Me (END + MASIH BERANTAKAN, INI TULISAN PERTAMA GUE WOI MAKANYA BRNTKN)

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines