Hello, Fajar!

Hello, Fajar!

  • WpView
    Reads 480
  • WpVote
    Votes 157
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Jul 21, 2021
WpInfo
Fiction
Romance
Sebuah mobil berwarna silver melintas di parkiran sebuah Universitas ternama di Indonesia. Tiga orang yang baru saja keluar, diantaranya menarik perhatian. "Itu si Fajar biang onar kan?"."Kok bisa sih masuk UI?" Seorang laki-laki dengan santainya berkata, "Iri? Bilang Boss!" *** "Dia tuh punya gue!" "Enggak! Dia punya gue!" "Gue!" "Gue!" "Susah jadi orang ganteng, di rebutin mulu. Apa lagi banyak duit. Hastag, @FajarAldhiPratama. Anaknya bapak Tama yang ganteng!" on going end:- PLAGIAT HARAP MUNDUR!
All Rights Reserved
#15
anggi
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Jomblo di eskul Pramuka
  • Orang Ketiga
  • See You After Midnight [END]
  • kulkas? (doshel)
  • ALLETA
  • My Beloved Boyfriend
  • Because I'm Stupid (End)
  • THREAD OF DESTINY
  • Blonde & The Cold Heart [TERBIT]

"Mulai hari ini kamu ibu masukkan ke dalam eskul pramuka, bahagialah!" Entah kenapa di akhir kalimat, pengucapan ibu Fatimah begitu menekan ke dalam jantungku. "Tung--Tunggu dulu bu. Saya belum pernah menyetujuinya" "Apakah itu harus?" Nada dingin dan sentuhan tangan beliau langsung menjalar ke urat nadiku "I--itu tergantung dengan situasi dan persepsi dari--" "Mana jawabanmu?" "Baik bu" Sial... Kenapa mulutku tak memikirkan nasibku yang akan datang. "Yaah, ibu tau kamu malu kok" (Bu! Hentikan omong kosong anda) Begitulah kalau aku punya nyali untuk mengucapkannya. "Nandi, mulai hari ini, dia bergabung dengan eskul pramuka" Ibu Fatimah mendekati seorang wanita yang dari tadi memperhatikan kami. Kalau aku bilang, lebih seperti seorang anak kecil sedang memperhatikan anak kecil lainnya yang sedang dipaksa oleh orang yang lebih tua. Entah apa yang mereka bisikkan di sana, tapi aku yakin, pasti itu bersangkutan dengan privasi yang kujaga lebih dari apapun. "Dimas, Nandi juga setuju dengan ini. Jadi kau sepulang sekolah bisa langsung ke ruang pramuka nanti" Lalu beliau tersenyum. Entah kenapa senyuman tersebut mempunyai maksud yang berbeda dari apa yang dia katakan sebelumnya "Jangan kabur ya..."

More details
WpActionLinkContent Guidelines